Pembiayaan Konsumer Bank Mega Syariah Tumbuh 23% hingga April 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Mega Syariah mencatat pertumbuhan pembiayaan konsumer sebesar 23% secara tahunan (year on year/yoy) hingga April 2026 dengan nilai portofolio pembiayaan konsumer perseroan tercatat mencapai lebih dari Rp 586 miliar.

Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah Benadicto Alvonzo Ferary mengatakan, pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan ritel dan investasi jangka panjang, termasuk pembiayaan emas melalui produk Flexi Gold.

Menurut Benadicto, tren pembiayaan konsumer saat ini tak lagi sebatas untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga mulai diarahkan untuk perencanaan keuangan jangka panjang.


Baca Juga: Pembiayaan Bank Mega Syariah Tumbuh 25,8% hingga Oktober 2025

“Minat masyarakat terhadap kepemilikan emas melalui skema cicilan terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Benadicto dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).

Hingga April 2026, outstanding pembiayaan emas melalui produk Flexi Gold mencapai lebih dari Rp 31 miliar.

Angka tersebut melonjak lebih dari 1.236% sejak awal tahun (year to date/ytd) dan kualitas aset terjaga sangat baik dengan rasio pembiayaan macet (non performing financing/NPF) di level 0%.

Secara wilayah, Area 1 yang mencakup Jakarta dan sekitarnya masih menjadi kontributor terbesar pembiayaan konsumer dengan nilai mencapai Rp 202,7 miliar. Disusul Area 4 sebesar Rp 122,9 miliar dan Area 3 sebesar Rp 98 miliar.

Segmen konsumer juga turut menopang pendapatan perseroan. Pada April 2026, pendapatan konsumer tercatat mencapai Rp 5,4 miliar atau tumbuh 12,28% dibanding bulan sebelumnya.

Baca Juga: Pembiayaan Griya Bank Mega Syariah Tumbuh 37,67% pada 2025

Secara keseluruhan, Bank Mega Syariah terus memperkuat penyaluran pembiayaan. Hingga kuartal I-2026, total pembiayaan yang disalurkan mencapai lebih dari Rp 9,26 triliun atau tumbuh 7,2% dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp 8,64 triliun.

Sejalan dengan itu, pendapatan dari piutang meningkat sekitar 40,9% menjadi lebih dari Rp 118 miliar. Adapun pendapatan bagi hasil tumbuh 4,7% menjadi lebih dari Rp 114,73 miliar.

Kinerja tersebut turut mendongkrak laba sebelum pajak perseroan. Hingga Maret 2026, Bank Mega Syariah membukukan laba sebelum pajak sebesar lebih dari Rp 79,97 miliar atau meningkat lebih dari 51% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Benadicto menyebut peningkatan laba ditopang oleh pertumbuhan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang mencapai Rp 191,60 miliar atau naik lebih dari 20% secara tahunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News