KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat, penjualan mobil dari dealer ke konsumen mencapai 433.848 unit hingga Juni 2026, atau naik 10,5% Year on Year (YoY). Adapun total wholesales mobil mencapai 436.564 unit hingga Juni 2026, atau meningkat 15,9% YoY. Namun, kenaikan penjualan tak diiringi dengan meningkatnya kinerja pembiayaan mobil di industri multifinance. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran pembiayaan mobil baru dan mobil bekas di industri multifinance terkontraksi 3,25% YoY, dengan nilai Rp 230,47 triliun per Juni 2026. Melihat tren tersebut, sejumlah perusahaan multifinance memperkirakan, pembiayaan mobil masih menghadapi tantangan hingga akhir 2026. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menilai sektor pembiayaan mobil masih dihadapkan pada tantangan penyesuaian daya beli masyarakat dan fluktuasi kondisi ekonomi makro.
Baca Juga: Ada Potensi Biaya Dana Naik , PPGI Ungkap Industri Gadai Perlu Terapkan Strategi Ini Meski demikian, Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman tetap melihat adanya peluang pertumbuhan, mengingat kebutuhan terhadap moda transportasi akan tetap ada. "Selain itu, pasar otomotif juga makin dinamis dengan hadirnya beragam pilihan kendaraan yang menawarkan fitur kompetitif, serta makin sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (13/8/2026). Ristiawan menerangkan, kondisi tersebut menjadi peluang bagi perusahaan multifinance untuk terus mendorong pertumbuhan melalui penawaran solusi pembiayaan yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Hingga Juni 2026, penyaluran pembiayaan mobil CNAF, yang mencakup mobil baru dan mobil bekas, tercatat senilai Rp 2,7 triliun. Ristiawan menyampaikan pencapaian tersebut mencerminkan kinerja yang tetap terjaga secara sehat di tengah dinamika pasar saat ini. Senada, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance/ADMF) juga menilai pembiayaan mobil hingga akhir tahun ini masih mengadapi sejumlah tantangan. Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani menerangkan memasuki semester II-2026, perusahaan mengantisipasi adanya moderasi terhadap laju pertumbuhan, seiring dengan kondisi ekonomi yang masih cukup menantang. Gani mengatakan beberapa faktor yang perlu dicermati hingga akhir tahun ini, antara lain tekanan nilai tukar Rupiah dan tingkat suku bunga yang masih tinggi.
Baca Juga: Jamkrida Sumbar Siapkan Strategi Tekan Klaim Penjaminan "Ditambah, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih," ucapnya kepada Kontan, Jumat (14/8/2026). Gani menyampaikan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga maupun biaya pembiayaan kendaraan. Dengan demikian, dia bilang konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian dan pembiayaan kendaraan. Untuk mendorong kinerja pembiayaan mobil ke depannya, Gani menyebut pihaknya akan menerapkan sejumlah upaya. Dia mengatakan Adira Finance akan terus menangkap potensi permintaan melalui penguatan kerja sama dengan dealer dan mitra strategis, serta menawarkan program pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen. "Pada saat yang sama, pertumbuhan pembiayaan akan tetap dilakukan secara selektif melalui proses underwriting yang prudent," ungkapnya. Gani menjelaskan, perusahaan juga terus memperkuat proses penagihan dan pengelolaan kualitas portofolio melalui optimalisasi tim collection, pemantauan yang lebih intensif, serta strategi penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing konsumen. Gani bilang, penyaluran pembiayaan mobil baru Adira Finance mencatatkan kinerja yang cukup baik pada semester I-2026, dengan nilai Rp 6,8 triliun. Dia bilang pencapaian itu masih tumbuh positif, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun PT Astra Sedaya Finance atau yang dikenal sebagai Astra Credit Companies (ACC) melihat perkembangan industri pembiayaan mobil dipengaruhi oleh beragam faktor, baik dari kondisi ekonomi maupun dinamika pasar. Melihat kondisi yang terjadi saat in, ACC masih terus mencermati perkembangan yang ada.
Baca Juga: OJK Ungkap 5 Strategi Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan "Kami masih terus mencermati perkembangan tersebut dan menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar, serta kebutuhan konsumen," ungkap EVP Corporate Communication & Strategy ACC Riadi Prasodjo kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).
Untuk menjaga pertumbuhan hingga akhir tahun, Riadi menyebut perusahaan akan terus memperkuat sinergi dengan mitra dan dealer otomotif, menghadirkan program pembiayaan yang relevan, serta meningkatkan kemudahan dan kualitas layanan bagi konsumen. Sementara itu, Pengamat Industri Pembiayaan Jodjana Jody menambahkan, pembiayaan mobil di industri multifinance hingga akhir tahun ini masih menantang. Selain faktor Non Performing Financing (NPF) industri multifinance yang masih tinggi di level 3,01%, Jody menyebut kenaikan suku bunga kredit dan belum pulihnya ekonomi nasional juga menjadi tantangan bagi sektor pembiayaan mobil. "Jadi, tidak berharap bahwa kredit akan tumbuh tinggi, kemungkinan besar di bawah 5% pada akhir tahun ini," kata Jody kepada Kontan, Jumat (14/8/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News