KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai menjadi sentimen positif bagi industri manufaktur nasional. Normalisasi jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi menekan biaya energi dan logistik yang selama ini menjadi salah satu beban utama bagi pelaku industri di Indonesia. Wakil Ketua Umum (WKU) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian Saleh Husin menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak dan gas paling penting di dunia. Dengan pulihnya aktivitas pelayaran di kawasan tersebut, pasokan energi global diperkirakan akan meningkat sehingga dapat membantu menstabilkan harga minyak, biaya transportasi, hingga premi logistik.
"Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan sentimen positif bagi industri manufaktur nasional karena dapat mengurangi tekanan biaya produksi yang selama beberapa bulan terakhir meningkat akibat lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global," ujar Saleh kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).
Baca Juga: Pemadaman Listrik Landa Pulau Jawa, Dirut PLN Ungkap Kendala Pasokan Batubara ke PLTU Menurut Saleh, kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi berbagai sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi. Beberapa di antaranya adalah industri petrokimia, pupuk, semen, logam dasar, keramik, serta kaca yang selama ini menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya produksi. Selain itu, kelancaran arus pelayaran di Selat Hormuz juga diperkirakan dapat memperbaiki distribusi bahan baku impor yang dibutuhkan sektor manufaktur nasional. Dengan rantai pasok yang lebih lancar, pelaku industri memiliki peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga keberlangsungan produksi. Meski demikian, Saleh mengingatkan bahwa dampak positif dari pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan langsung dirasakan oleh industri dalam waktu singkat. Proses normalisasi rantai pasok global membutuhkan waktu hingga akhirnya tercermin pada penurunan biaya produksi di tingkat manufaktur. Di sisi lain, prospek industri manufaktur Indonesia masih dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal lainnya. Mulai dari kondisi permintaan global yang belum sepenuhnya pulih, ketidakpastian perdagangan internasional, hingga persaingan yang semakin ketat di pasar ekspor.
Baca Juga: Usulan Harga DMO Batubara Baru: Begini Hitungan Pengusaha dan Praktisi Tambang Oleh karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz lebih tepat dipandang sebagai katalis positif yang dapat membantu memperbaiki iklim usaha dan meningkatkan optimisme pelaku industri nasional. "Terutama melalui potensi penurunan biaya energi dan logistik yang selama ini menjadi salah satu sumber tekanan utama bagi sektor manufaktur," imbuhnya. Pelaku industri pun berharap stabilitas pasokan energi global dan kelancaran rantai pasok dapat terus terjaga. Kondisi tersebut diyakini akan memperkuat daya saing industri manufaktur nasional sekaligus mendukung pemulihan dan pertumbuhan sektor industri di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News