JAKARTA. Pemerintah daerah (Pemda) Provinsi Riau mendesak pemerintah pusat untuk menetapkan daerahnya sebagai basis pengembangan industri hilir kelapa sawit nasional. Ini mengacu pada potensi Riau, terutama Dumai sebagai produsen besar minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO). Pemda Riau juga meminta pemerintah membuat payung hukum untuk pengembangan klaster industri produk turunan CPO. Sehingga bisa menarik investor untuk masuk dan terjun ke industri pengolahan produk CPO. WaliKota Dumai Zulkifli mengungkapkan, di daerahnya tersedia lahan lokasi pengembangan industri pengolahan hilir CPO, yakni di Kawasan Industri Dumai (KID) dengan luas mencapai 5.000 hektare. Lahan ini ditujukan bagi investor yang berminat membangun pabrik pengolahan CPO. “KID selama ini sudah diisi beberapa pabrik tapi baru mencapai 300 hektare. Sisa lokasi masih luas dan bisa menjadi lahan bagi investor yang berminat,” kata Zulkifli, Rabu (24/6).Zulkifli mengatakan, daerahnya memiliki lahan kelapa sawit paling luas dengan jumlah pabrik pengolahan kelapa sawit paling banyak di Indonesia. Selain itu, 50% lahan sawit di provinsi Riau adalah lahan perkebunan rakyat. Pada 2008 lalu, luas lahan kelapa sawit di Riau adalah 1,55 juta hektare. Sementara luas lahan kelapa sawit di Sumatera Utara adalah 970.700 ha dan Sumatera Selatan 630.000 ha. Sementara, provinsi Riau memiliki pabrik pengolahan CPO sebanyak 128 unit dengan kapasitas 5.645 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam. Adapun Sumatera Utara memiliki pabrik sebanyak 87 unit dengan kapasitas 3.030 ton TBS per jam. Sedangkan Sumatera Selatan memiliki pabrik sebanyak 50 unit dengan kapasitas 2.410 ton TBS per jam.Ujungnya, pemda Riau yakin bakal memiliki kinerja yang baik pada tahun ini. “Karenanya, Riau dapat dijadikan basis pengembangan industri hilir kelapa sawit di tingkat nasional,” katanya.
Pemda Riau Ingin Menjadi Pusat Industri CPO
JAKARTA. Pemerintah daerah (Pemda) Provinsi Riau mendesak pemerintah pusat untuk menetapkan daerahnya sebagai basis pengembangan industri hilir kelapa sawit nasional. Ini mengacu pada potensi Riau, terutama Dumai sebagai produsen besar minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO). Pemda Riau juga meminta pemerintah membuat payung hukum untuk pengembangan klaster industri produk turunan CPO. Sehingga bisa menarik investor untuk masuk dan terjun ke industri pengolahan produk CPO. WaliKota Dumai Zulkifli mengungkapkan, di daerahnya tersedia lahan lokasi pengembangan industri pengolahan hilir CPO, yakni di Kawasan Industri Dumai (KID) dengan luas mencapai 5.000 hektare. Lahan ini ditujukan bagi investor yang berminat membangun pabrik pengolahan CPO. “KID selama ini sudah diisi beberapa pabrik tapi baru mencapai 300 hektare. Sisa lokasi masih luas dan bisa menjadi lahan bagi investor yang berminat,” kata Zulkifli, Rabu (24/6).Zulkifli mengatakan, daerahnya memiliki lahan kelapa sawit paling luas dengan jumlah pabrik pengolahan kelapa sawit paling banyak di Indonesia. Selain itu, 50% lahan sawit di provinsi Riau adalah lahan perkebunan rakyat. Pada 2008 lalu, luas lahan kelapa sawit di Riau adalah 1,55 juta hektare. Sementara luas lahan kelapa sawit di Sumatera Utara adalah 970.700 ha dan Sumatera Selatan 630.000 ha. Sementara, provinsi Riau memiliki pabrik pengolahan CPO sebanyak 128 unit dengan kapasitas 5.645 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam. Adapun Sumatera Utara memiliki pabrik sebanyak 87 unit dengan kapasitas 3.030 ton TBS per jam. Sedangkan Sumatera Selatan memiliki pabrik sebanyak 50 unit dengan kapasitas 2.410 ton TBS per jam.Ujungnya, pemda Riau yakin bakal memiliki kinerja yang baik pada tahun ini. “Karenanya, Riau dapat dijadikan basis pengembangan industri hilir kelapa sawit di tingkat nasional,” katanya.