Pemeriksaan Nipah di Bandara Lebih Bersifat Menenangkan Publik dan Tidak Efektif



KONTAN.CO.ID - LONDON. Pemeriksaan di bandara terkait virus Nipah yang diperketat di sejumlah negara Asia pekan ini dinilai lebih bertujuan menenangkan publik dibandingkan berdasarkan pertimbangan ilmiah. Hal tersebut disampaikan sejumlah pakar kesehatan pada Jumat, menyusul ditemukannya dua kasus virus mematikan tersebut di India.

Sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Pakistan mulai memberlakukan pemeriksaan suhu tubuh di bandara setelah India mengumumkan dua kasus virus Nipah di negara bagian Benggala Barat. Kementerian kesehatan masing-masing negara menyebut langkah tersebut sebagai tindakan pencegahan terhadap penyakit berbahaya.

Virus Nipah merupakan infeksi yang terutama menyebar melalui produk yang terkontaminasi oleh kelelawar yang terinfeksi, seperti buah-buahan. Tingkat kematian akibat virus ini dapat mencapai 75%, namun penularannya antar manusia tergolong sulit terjadi.


Baca Juga: Trump Memilih Kevin Warsh untuk Memimpin The Fed, Gantikan Jerome Powell

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pada Jumat bahwa saat ini mereka tidak merekomendasikan pemeriksaan di bandara dan menilai risiko penyebaran virus dari India tergolong rendah.

“Berdasarkan pengetahuan yang ada saat ini, kemungkinan wabah ini berkembang menjadi epidemi internasional berskala besar sangat kecil,” ujar Dr. Md Zakiul Hassan, pakar virus Nipah dari icddr,b, lembaga riset kesehatan global di Bangladesh, negara yang hampir setiap tahun melaporkan kasus Nipah.

Piero Olliaro, profesor penyakit terkait kemiskinan dari Universitas Oxford, mengatakan pemeriksaan bandara untuk penyakit yang sangat jarang seperti Nipah kemungkinan besar tidak efektif.

“Negara-negara terkadang melakukan hal ini untuk menunjukkan bahwa mereka bertindak, memberi kesan kepada masyarakat bahwa pemerintah sedang melindungi mereka,” ujarnya. Ia dan sejumlah pakar kesehatan masyarakat lainnya menambahkan pemeriksaan suhu di bandara jarang berhasil mencegah penyebaran penyakit. Pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan sebagian besar kasus justru tidak terdeteksi.

Selain itu, banyak penyakit lain yang juga dapat menyebabkan demam, sementara pemeriksaan lanjutan untuk penyakit langka seperti Nipah memerlukan waktu yang panjang. Para ahli menilai perhatian global terhadap Nipah seharusnya difokuskan pada upaya memahami virus tersebut di wilayah endemik, serta melindungi kelompok berisiko melalui pengembangan vaksin dan pengobatan baru.

“Ada orang-orang yang benar-benar menderita akibat penyakit ini dan mereka layak mendapatkan perhatian,” kata Olliaro. Menurutnya, langkah tersebut juga penting untuk mengantisipasi risiko pandemi di masa depan jika virus mengalami perubahan dan menjadi ancaman internasional yang lebih besar.

“Kesiapsiagaan berarti kita sudah memiliki alatnya sekarang, bukan baru berupaya mengembangkannya ketika semuanya sudah terlambat,” pungkasnya.

Selanjutnya: KPK Temukan Aktivitas Ridwan Kamil Tukar Uang Milyaran Rupiah ke Mata Uang Asing

Menarik Dibaca: Bukan Gaji, Ini 5 Rahasia Orang Kaya Kelola Uang Hingga Sukses