KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah akan menarik utang baru sebesar Rp 876,27 triliun pada tahun 2027. Berdasarkan
Berdasarkan Buku II Nota Keuangan beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penarikan utang baru dalam outlook Lapsem 2026 yang sebesar Rp 736,6 triliun. Dalam perinciannya penarikan utang baru dalam RAPBN 2027 akan dipenuhi melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 779,9 triliun dan pinjaman neto sebesar Rp 96,3 triliun.
Baca Juga: Bank Indonesia Terus Perkuat Bauran Kebijakan Moneter untuk Jaga Inflasi Dengan demikian, pemerintah akan menarik pembiayaan utang baru sebesar Rp 876,3 triliun pada 2027. Nilai tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk menutup defisit anggaran (yakni sebesar Rp 671,2 triliun) karena pemerintah juga perlu melakukan pembiayaan kembali atas utang yang jatuh tempo, termasuk pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri maupun dalam negeri. Untuk diketahui, tahun depan pemerintah harus membayar cicilan pokok pinjaman luar negeri dan dalam negeri dengan total sebesar Rp 153,3 triliun. Belum lagi ada pembayaran bunga utang sebesar Rp
650,31 triliun. Pelaksana Tugas (Plt.)/Pelaksana Harian (Plh.) Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan Ferry Ardiyanto mengatakan, pemerintah akan menjaga pengelolaan pembiayaan dan defisit 2027 tetap berada dalam batas yang aman dan berkelanjutan. Ferry menjelaskan, pemerintah memiliki sejumlah strategi utama dalam menjaga risiko pembiayaan. Pertama, memprioritaskan penerbitan SBN domestik untuk mengurangi risiko eksternal. "Kedua, tadi disampaikan juga di presentasi, menjalankan
active debt management seperti
liability management untuk menekan biaya bunga. Kemudian yang ketiga, menjaga keseimbangan antara tenor pendek dan panjang agar tidak ada penumpukan risiko," ujar Ferry saat konferensi pers bersama Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, Rabu (19/8/2026).
Dengan strategi tersebut, pemerintah meyakini rasio utang terhadap PDB akan tetap berada dalam batas aman. "Jadi dengan strategi ini, rasio utang terhadap PDB akan terus berada pada sisi aman," pungkasnya.
Baca Juga: BI Catat Aliran Modal Asing Masuk US$ 1,8 Miliar hingga 14 Agustus 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News