KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Amerika Serikat terus mengupayakan pemulangan warganya dari kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan regional. Pada Rabu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa sebuah penerbangan charter pemerintah sedang membawa warga Amerika kembali ke Amerika Serikat dari kawasan tersebut, sementara sejumlah penerbangan tambahan sedang diatur dari berbagai lokasi di Timur Tengah. Departemen tersebut tidak merinci jumlah penumpang dalam penerbangan tersebut, negara asal keberangkatan, maupun waktu pasti keberangkatan dan kedatangan pesawat.
Lebih dari 17.500 Warga AS Telah Kembali
Menurut Departemen Luar Negeri AS, sejak 28 Februari—ketika pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan awal terhadap Iran—lebih dari 17.500 warga Amerika telah berhasil kembali dengan selamat ke Amerika Serikat dari kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Saham Maskapai Penerbangan Rebound di Tengah Pembukaan Penerbangan Timur Tengah Dari jumlah tersebut, sekitar 8.500 orang tercatat pulang hanya dalam satu hari, yaitu pada Selasa. Selain kembali ke Amerika Serikat, banyak warga negara AS lainnya juga memilih meninggalkan kawasan Timur Tengah menuju negara-negara di Eropa dan Asia sejak konflik mulai meningkat.
Imbauan Segera Tinggalkan Kawasan
Pada Senin, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan imbauan kepada warga Amerika yang berada di 14 negara di Timur Tengah agar segera meninggalkan wilayah tersebut dengan memanfaatkan transportasi komersial yang masih tersedia. Namun, proses evakuasi tidak selalu berjalan mudah. Perang yang sedang berlangsung menyebabkan gangguan besar pada penerbangan internasional, sehingga banyak warga Amerika mengalami kesulitan mendapatkan penerbangan keluar dari kawasan konflik.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Terdorong Kenaikan Permintaan Seiring Meluasnya Konflik Timur Tengah Kritik dari Anggota Kongres
Situasi ini memicu kritik tajam dari sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat. Mereka menilai pemerintah kurang melakukan perencanaan yang memadai dan memberikan peringatan terlalu terlambat kepada warga negaranya yang berada di kawasan tersebut. Menanggapi kritik tersebut, Departemen Luar Negeri menyatakan bahwa mereka telah mengambil langkah konkret dengan memfasilitasi penerbangan charter bagi warga AS yang membutuhkan bantuan untuk meninggalkan wilayah konflik. Saat ini, pemerintah AS juga sedang mengatur penerbangan charter dari beberapa negara di kawasan, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania, guna membantu proses evakuasi warga Amerika yang masih berada di Timur Tengah.