JAKARTA. Maraknya ekspor rotan dan kayu ilegal membuat pemerintah gerah. Pemerintah pun berencana membangun tujuh titik terminal kayu terpadu (TKT) dan pusat pengolahan industri rotan terpadu (PPIRT). Empat lokasi TKT dan tiga lokasi PPIRT itu akan dibangun dengan biaya Rp 70 miliar hingga Rp 100 miliar per terminal seluas 5 hektare. Dana ini berasal dari dana gabungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Anggaran ini terdiri dari investasi mesin dan peralatan sekitar Rp 13 miliar hingga Rp 14 miliar dan sisanya untuk lahan dan infrastruktur. Selain mencegah penyelundupan, terminal ini akan mempermudah ekspor rotan dan kayu nasional. ”Terminal kayu ini sebagai clearing house, pihak Bea Cukai dan Kehutanan bisa memonitor dari titik pertama dan akhir dengan alat tertentu,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris, Rabu (17/6).
Pemerintah Bangun Terminal Terpadu
JAKARTA. Maraknya ekspor rotan dan kayu ilegal membuat pemerintah gerah. Pemerintah pun berencana membangun tujuh titik terminal kayu terpadu (TKT) dan pusat pengolahan industri rotan terpadu (PPIRT). Empat lokasi TKT dan tiga lokasi PPIRT itu akan dibangun dengan biaya Rp 70 miliar hingga Rp 100 miliar per terminal seluas 5 hektare. Dana ini berasal dari dana gabungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Anggaran ini terdiri dari investasi mesin dan peralatan sekitar Rp 13 miliar hingga Rp 14 miliar dan sisanya untuk lahan dan infrastruktur. Selain mencegah penyelundupan, terminal ini akan mempermudah ekspor rotan dan kayu nasional. ”Terminal kayu ini sebagai clearing house, pihak Bea Cukai dan Kehutanan bisa memonitor dari titik pertama dan akhir dengan alat tertentu,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris, Rabu (17/6).