Pemerintah Bebaskan Bea Masuk LPG, AMDATARA Ungkap Dampaknya untuk Industri AMDK



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah saat ini sudah resmi memberikan stimulus untuk menahan tekanan biaya industri di tengah lonjakan harga plastik global dan terganggunya pasokan bahan baku petrokimia. Salah satu upayanya adalah memberikan pembebasan bea masuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) menjadi 0% selama enam bulan.

Padahal sebelumnya pengenaan bea masuk impor untuk bahan baku plastik berada di kisaran 5%–15%.

Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA), Karyanto Wibowo menyambut positif dengan adanya kebijakan pembebasan bea masuk bahan baku plastik seperti polipropilin (PP), HDPE (High-Density Polyethylene), dan LLDPE (Linear Low-Density Polyethylene).


"Kebijakan ini diyakini membantu menstabilkan harga dan ketersediaan kemasan plastik, menjaga keberlanjutan industri AMDK (Air Mineral Dalam Kemasan), serta mencegah kenaikan harga produk yang dapat membebani daya beli masyarakat," ujar Karyanto kepada Kontan, Selasa (28/4/2026).

Baca Juga: Stimulus Impor LPG Diprotes Industri Kemasan, Pelaku Hilir Merasa Terpinggirkan

Karyanto menjelaskan bahwa kebijakan pembebasan bea masuk bahan baku utama plastik akan membantu menekan biaya produksi melalui stabilisasi harga produk.

"Dengan biaya yang lebih terkendali, industri dapat mengurangi kenaikan harga produk AMDK secara signifikan sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga," kata Karyanto.

Menurutnya, kebijakan tersebut juga merupakan langkah antisipasi untuk mencegah inflasi naik lebih tinggi.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kebijakan ini merupakan hasil rapat koordinasi lintas kementerian yang telah dilaporkan kepada Presiden.

“Pertama, insentif untuk LPG, di mana intervensi kebijakan dilakukan pada bea masuk LPG. Dengan adanya perang di Selat Hormuz, industri petrokimia mengalami kesulitan memperoleh nafta,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan, selama ini industri petrokimia sangat bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama. Namun, terganggunya pasokan membuat pemerintah harus bergerak cepat menyiapkan alternatif, yakni LPG.

“Sebagai langkah ini, impor LPG biaya masuknya diturunkan dari 5% menjadi 0%, sehingga refinery (kilang produksi) bisa memperoleh bahan baku alternatif dari nafta ke LPG. Karena refinery ini dibutuhkan untuk bahan baku plastik,” jelasnya.

Baca Juga: Persaingan Ritel Produk Apple Kian Ketat, BELI Memperkuat Bisnis hello Store

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: