Pemerintah beli 16 Sukhoi senilai US$ 1,17 miliar



MAROS. Akhirnya pesawat tempur jenis Sukhoi pesanan pemerintah Indonesia dari Rusia telah tiba. Menteri Pertahanan (Kemhan) Purnomo Yusgiantoromenghadiri secara langsung serah terima pembelian pesawat tersebut di Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin TNI AU, Mandai, Maros, Makassar hari ini Rabu (25/9).

Purnomo didampingi oleh Kepala Baranahan Kemhan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis, Panglima TNI Jendral TNI Moeldoko, Pangkoopsau II Marsda TNI Agus Supriatna dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin.

Rencananya 16 pesawat tempur Sukhoi pesanan Kementerian Pertahanan tersebut akan di tempatkan di Skuadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin.


Untuk pengadaan 16 unit pesawat Sukhoi tersebut, pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar US$ 1,17 miliar. Kepala Baranahan Kemhan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis merinci pengadaan 16 Sukhoi (satu skuadron) tersebut dilakukan melalui empat tahap.

Tahap pertama dimulai 2003-2004, dimana pemerintah memesan empat unit Sukhoi dengan anggaran US$ 193 juta. Tahap kedua atas persetujuan DPR RI, maka pada 2007 ditambah lagi enam unit yang menelan anggaran US$ 335 juta.

Tahap ketiga pada 2011, enam unit Sukhoi pun dipesan lagi seharga US$ 470 juta dengan tipe terbaru. Kemudian tahap terakhir pada 2013, anggaran yang digelontorkan senilai US$ 175 juta untuk enam Sukhoi terakhir. Selain untuk pengadaan pesawat, anggaran tersebut juga termasuk untuk pengadaan amunisi, latihan para pilot dan logistik.

Purnomo Yusgiantoro menambahkan bahwa selain bersumber dari APBN, anggaran juga berasal dari pinjaman luar negeri. Namun ia mengatakan agar publik jangan melihat berapa banyak anggaran yang dikeluarkan untuk pengadaan pesawat Sukhoi ini.

Sebab, dengan jangka waktu pembelian selama sepuluh tahun tersebut, spesifikasi Sukhoi berbeda dibandingkan spesifikasi sebelumnya, sehingga harganya pun berbeda.

"Yang dulu mahal, sesuai spesifikasi teknis pesawat, karena dari waktu ke waktu harga juga berbeda. Kami transparan angka dan jumlah pesawat, jangan sampai ada persepsi keliru di masyarakat," jelasnya. (Muthmainnah Amri/Tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan