KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berencana melakukan ekspor 1 juta ton beras ke negara ASEAN. Kebijakan ini seiring dengan meningkatnya cadangan beras pemerintah yang mencapai 3 juta ton. Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian menilai kebijakan ekspor bisa dilakukan setelah pemerintah memastikan kebutuhan beras dalam negeri dengan harga terjangkau. Menurutnya kebijakan ini lebih penting untuk meringankan beban masyarakat utamanya bagi mereka yang masuk kategori kelas menengah ke bawah.
"Buat pasar besar jenuh dengan cara pemerintah gencar operasi pasar terutama untuk kalangan menengah bawah dengan harga terjangkau,"kata Eliza pada Kontan, Senin (12/1/2026).
Baca Juga: Kejar Target Prabowo, Kemenkop Bidik 26.000 Gerai Kopdes Merah Putih Kelar April 2026 Sebetulnya yg lebih
urgent dilakukan pemerintah adalah cadangan beras pemerintah itu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga terjangkau. Buat pasar besar jenuh dengan cara pemerintah gencar operasi pasar terutama untuk kalangan menengah bawah dengan harga terjangkau. Jd masyarakat menengah bawah ga beli beras mahal di pasaran Eliza menilai kenaikan harga beras ini memukul dan menggerus daya beli kalangan menengah bawah. Sehingga pemerintah diminta fokus memperbaiki tata kelola niaga beras Indonesia daripada fokus pada peningkatan produksi untuk ekspor. "Ekspor sah sah saja jika produksi surplus besar. Untuk apa menyimpan cadangan beras hingga 7 juta ton jika masyarakat kebanyakan teriak harga beras mahal," ujar Eliza. Untuk memangkas harga beras di konsumen, pemerintah bisa melakukan pemangkasan distribusi. Pemerintah juga memaksimalkan program besar seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dengan didukung pendanaan untuk membangun
rice milling unit di level gabungan kelompok tani. "Jadi petani tidak jual lagi gabah, mereka bisa giling sendiri jadi beras, dengan begitu harga beras bisa ditekan," ungkap Eliza.
Baca Juga: Belanja Desember 2025 Melambat, Anomali Pola Konsumsi Akhir Tahun Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya mulai menjalin komunikasi dan sudah menawarkan beras dalam negeri untuk di ekspor ke negara-negara ASEAN. "Kami stoknya 1 juta untuk ekspor, nanti itu yang akan dijual dengan kualitas premium," kata Rizal dala Rapat Kerja Nasional (Rakornas), Minggu (11/1/2026). Namun begitu, Rizal mengatakan saat ini pihaknya masih belum mendapatkan respons lanjutan dari negara tetangga. Menurutnya, hal ini masih akan terus berproses. Rizal memastikan, rencana ekspor ini tidak akan mengganggu kebutuhan di dalam negeri. Menurutnya, saat ini stok cadangan beras masih jauh lebih cukup mencapai 3,25 juta ton.
"Kami yakinkan aman dengan stok kalau kepotong 1 juta ton untuk ekspor itu, masih sisa 2,25 juta ton, aman," ungkap Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News