Pemerintah berupaya manfaatkan sumber pembiayaan yang efisien untuk tekan rasio utang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan berupaya dalam menggunakan sumber pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang efisien untuk menekan rasio utang ke depannya.

Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan, dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, salah satu sumber efisien yang akan dimanfaatkan adalah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya. 

“Di tahun 2021 ini, pemerintah menggunakan SILPA dan sumber lainnya untuk mengurangi pembiayaan utang sampai dengan Rp 219 triliun,” ujar Luky kepada Kontan.co.id, Senin (26/7). 


Selain menggunakan SILPA, pemerintah tetap akan memanfaatkan fleksibilitas instrumen utang. Dalam hal ini, pemerintah akan memanfaatkan pinjaman luar negeri yang biayanya dirasa lebih efisien. Plus, pemerintah akan melakukan konversi pinjaman ke pinjaman yang memiliki biaya lebih murah. 

Baca Juga: Ekonom ini memperkirakan beban utang pemerintah bisa capai 55% PDB pada tahun 2023

Luky bilang, pemerintah tetap akan melakukan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Namun, biaya akan ditekan seefisien mungkin. Salah satunya, dengan memanfaatkan dukungan Bank Indonesia (BI) sebagai standby buyer. “Kami juga akan melakukan manajemen liabilitas untuk menekan biaya utang di masa depan yang secara tidak langsung berdampak mengurangi jumlah utang,” tambah Luky. 

Seiring dengan upaya tersebut, pemerintah tetap akan menjaga kredibilitas APBN dengan menghindari pelebaran defisit dari target yang sudah ditetapkan, lewat refokusing dan realokasi pos-pos APBN. Apalagi, di saat ini pemerintah masih harus merogoh kocek lebih dalam untuk perpanjangan sejumlah program dan tambahan bantuan perlindungan sosial dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). 

Untuk itu, pemerintah akan melakukan ekspansi dan konsolidasi fiskal, di samping upaya pemulihan ekonomi dan penanganan kasus Covid-19, sehingga defisit bisa turun secara berlahan sebelum kembali ke besaran defisit di bawah 3% pada tahun 2023.

Selanjutnya: Rasio utang terhadap PDB diprediksi membengkak, ini saran ekonom CORE

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .