Pemerintah Bidik PLTS 100 GW, AESI Sorot Tantangan Bangun Proyek yang Bankable



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menyoroti tantangan dalam membangun proyek yang bankable (layak didanai), terutama seiring target pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).

Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari menjelaskan bahwa peluang investasi di Indonesia saat ini berada pada momentum yang besar seiring langkah pemerintah membidik PLTS hingga 100 GW.

"Trennya sangat positif; kapasitas tenaga surya terpasang telah naik dari sekitar 0,9 GW pada 2024 menjadi 1,5 GW pada 2026," katanya kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).


Menurut dia, daya tarik investor juga terlihat jelas dari kuota PLTS atap sebesar 485 megawatt (MW) untuk 2026 yang 100% terserap, bahkan masih menyisakan daftar tunggu sebesar 218 MW.

Baca Juga: Kapasitas PLTS Indonesia Capai 1,5 GW, Industri Siap Pacu Pembangkit Tenaga Surya

Belum lagi, AESI turut menyoroti terdapat potensi masif dari program PLTS Mentari Nusantara 1.225 MW dan program Lisdes dengan kapasitas 504 MWp.

Secara keseluruhan, AESI melihat Indonesia tidak kekurangan peluang investasi. Akan tetapi, tantangan investasi EBT saat ini adalah cara mengubah potensi tersebut menjadi proyek yang bankable, investasi yang bergerak, dan implementasi nyata dalam skala besar.

Untuk mengawal hal tersebut, AESI berkontribusi melalui empat satuan tugas (task force). Pertama, task force IPP guna memperkuat kerangka kebijakan dan kesiapan pasar.

Kedua, task force 100 GW yang menyusun kerangka kesiapan sistem, rantai pasok, dan model implementasi yang inklusif.

Ketiga, task force rooftop solar mendorong percepatan adopsi PLTS atap melalui pemetaan pasar, penguatan kebijakan, peningkatan kuota, serta pengembangan  model penerapan PLTS atap di sektor industri, komersial, dan bangunan hijau.

Keempat, task force green work force melakukan pengembangan ekosistem tenaga kerja hijau sektor surya melalui penyelarasan standar kompetensi, sertifikasi, pelatihan, dan sistem pembelajaran untuk mendukung percepatan PLTS nasional.

Baca Juga: Pemerintah Matangkan Perpres PLTS 100 GW, Kemenko Perekonomian Beberkan Progresnya

"Secara keekonomian, proyek PLTS di Indonesia cukup kompetitif. Biaya bukan lagi hambatan utama karena kombinasi PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS) kini mampu bersaing secara harga dengan pembangkit listrik konvensional," ujarnya.

Karena isu harga dan teknologi sudah bukan hambatan utama, faktor penentu minat investasi kini disebut bergeser pada kepastian dan efisiensi regulasi secara administratif.

Saat ini, investor mencari proyek yang memiliki risiko terukur. Menurutnya minat investor saat ini ditentukan oleh seberapa cepat efisiensi proses pengadaan (dari tender menuju financial close), kejelasan dan integrasi status perizinan lahan, serta kepastian regulasi jangka panjang seperti standardisasi format PPA dan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). 

"Selama aspek administratif ini bisa memberikan kepastian, minat investasi akan terus ada," tandas dia.

Baca Juga: ESDM: Kontribusi PLTS Baru 0,51% dalam Bauran Energi, Program 100GWp Jadi Angin Segar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News