Pemerintah Bidik Transaksi Harbolnas 2026 Naik Jadi 40 Triliun



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah membidik penyelenggaraan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2026 hingga menembus angka Rp 40 triliun, meningkat dari capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 36,4 triliun.

Sebagaimana diketahui, Harbolnas 2026 akan diselenggarakan pada 10–16 Desember 2026 ditargetkan mampu mencatatkan kenaikan transaksi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, peningkatan nilai transaksi ini menjadi momentum krusial untuk mendongkrak daya beli masyarakat dan mengangkat pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal keempat sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.


Baca Juga: Komisi XI DPR Tetapkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Aida dan Solikin Deputi

“Pada tahun 2026, Harbolnas memasuki tahun ke-14, event ini tidak hanya sebagai ajang diskon tahunan, tetapi juga sebagai gerakan nasional untuk memperkuat produk dalam negeri, meningkatkan inklusi digital, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan,” tutur Airlangga dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026).

Ia menyebut, Pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan ekosistem ekonomi digital nasional sebagai salah satu pilar utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional terus diakselerasi melalui perluasan akses pasar berbasis digital.

Untuk memastikan produk-produk buatan dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri, Pemerintah secara konsisten memfasilitasi kolaborasi antara pelaku e-commerce, asosiasi industri, dan UMKM guna memperluas jangkauan pasar hingga ke seluruh Nusantara.

Adapun penguatan sektor e-commerce Indonesia didukung oleh potensi ekonomi digital nasional yang sangat besar, di mana nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mendekati US$ 100 miliar.

Indonesia juga tercatat sebagai pasar video commerce terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah penjual mencapai 800.000 serta pertumbuhan transaksi hingga hampir 90% menjadi 2,6 miliar transaksi, yang ditopang oleh penetrasi pengguna aktif media sosial yang telah menembus lebih dari 180 juta jiwa dan tumbuh 26% per tahun.

Untuk memperkuat daya saing produk lokal, Airlangga menekankan pentingnya optimalisasi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) melalui pengembangan algoritma rekomendasi berbasis personalisasi konsumen. Selain itu, integrasi antara platform e-commerce dan perluasan pasar ekspor juga disiapkan melalui implementasi Digital Economic Framework Agreement (DEFA) di tingkat ASEAN yang berpotensi melipatgandakan nilai pasar digital ASEAN menjadi USD2 triliun, dengan porsi Indonesia mencapai USD600 miliar.

Penguatan ekosistem digital tersebut turut didukung oleh fasilitas sistem pembayaran QR Cross-Border (QRIS) antarnegara ASEAN yang memberikan efisiensi tinggi bagi pelaku usaha tanpa beban merchant discount rate (biaya nol untuk pedagang).

Ia menyebut kehadiran platform digital dan kemudahan pembayaran ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak UMKM lokal, khususnya produk-produk artisan, untuk go digital dan menembus pasar global tanpa terhambat hambatan non-tarif.

“Pemerintah  senantiasa  berkomitmen  dalam mendukung penguatan ekosistem e-commerce nasional melalui penyusunan regulasi yang adaptif, penyediaan infrastruktur digital hingga ke pelosok negeri, serta fasilitasi kolaborasi antara pelaku e-commerce, UMKM, asosiasi industri, dan konsumen,” pungkas Airlangga.

Baca Juga: Pimpinan DPR Siap Mundur Jika RUU Perampasan Aset Tak Rampung 15 Desember 2026

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News