KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah belum lama ini telah mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun. Stimulus tersebut disalurkan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik pada semester II-2026. Secara rinci, ada sejumlah paket stimulus yang akan digelontorkan, antara lain insentif perpajakan bagi penulis dengan menetapkan Pajak Penghasilan (PPh) final sebesar 1,5%, diskon transportasi periode libur sekolah, insentif transportasi udara musim liburan, diskon transportasi periode Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan insentif transportasi udara Nataru. Kemudian, pemerintah juga memberikan insentif impor LPG dan bahan baku plastik, pemberian stimulus program magang dan pelatihan vokasi, bantuan pangan berupa beras 10 kilogram dengan anggaran sekitar Rp 17,54 triliun, serta bantuan stabilitasi harga dan pasokan pangan kedelai.
Baca Juga: Usai Keputusan MSCI, Begini Strategi Saham yang Disarankan Analis untuk Investasi Lantas, bagaimana efek dari pemberian paket stimulus ekonomi ini terhadap prospek kinerja emiten?
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan stimulus ini mampu memberikan sentimen positif bagi emiten, namun dampaknya terhadap laba secara agregat relatif terbatas. Sebagian besar paket ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan konsumsi selama periode liburan, bukan mendorong investasi atau ekspansi ekonomi secara luas. "Di pasar modal, stimulus ini lebih berperan sebagai buffer untuk menopang konsumsi domestik," kata Liza kepada Kontan, Kamis (25/6/2026). Dus, manfaatnya lebih terasa bagi emiten yang terkait langsung dengan konsumsi, ritel, dan sektor pangan dibanding sektor yang bergantung pada ekspor atau investasi. Liza bilang secara historis, stimulus fiskal dapat menjadi sentimen positif bagi pasar, namun dampaknya bergantung pada skala dan jenis stimulus. Stimulus yang bersifat sementara, seperti diskon transportasi atau bantuan sosial, umumnya hanya memberi dorongan jangka pendek. Sementara stimulus yang mendorong investasi atau reformasi struktural cenderung memberikan dampak yang lebih berkelanjutan. "Paket stimulus kali ini lebih berfungsi menjaga konsumsi domestik dibanding menjadi katalis utama pertumbuhan laba emiten atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," ucap Liza. Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan pemberian stimulus tersebut tetap memberikan dampak positif terhadap kinerja emiten, meski manfaatnya cenderung bersifat selektif dan tidak dirasakan secara merata oleh seluruh sektor.
Baca Juga: Proyeksi IHSG: Sentimen MSCI Masih Tekan Pasar, Ini Level Kritis IHSG! Paket stimulus ini lebih kuat untuk menahan daya beli, mendorong mobilitas, dan menjaga konsumsi di semester II-2026, sehingga emiten yang paling diuntungkan adalah yang punya eksposur ke transportasi, pariwisata, consumer spending, serta petrokimia atau plastik. Namun kalau dilihat dari ukuran total stimulus Rp26,34 triliun, efeknya ke laba emiten secara agregat kemungkinan tidak terlalu besar untuk mengubah landscape pasar secara menyeluruh, melainkan lebih sebagai short-term booster terhadap revenue dan market sentiment di sektor tertentu. "Jadi, ini lebih berpotensi membantu top line dan traffic beberapa emiten dibanding langsung mengerek seluruh kinerja pasar," ucap Elandry kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
Emiten Terdampak Paket Stimulus
Elandry merinci, kelompok pertama yang berpotensi terpapar stimulus ekonomi adalah transportasi dan mobilitas, terutama emiten yang diuntungkan dari kenaikan trafik saat libur sekolah dan Nataru, seperti PT Jasa Marga Tbk (JSMR) untuk trafik tol, lalu emiten aviasi seperti PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) karena ada PPN DTP tiket pesawat domestik serta penurunan bea masuk suku cadang pesawat. Kelompok kedua adalah petrokimia dan plastik, terutama PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) karena insentif bea masuk 0% LPG industri petrokimia dan bahan baku plastik berpotensi menekan cost pressure serta menjaga margin. Kelompok ketiga adalah consumer staples dan ritel kebutuhan harian seperti ICBP/INDF/MAPA/ACES, yang bisa menikmati efek tidak langsung dari bantuan pangan dan program penopang daya beli karena belanja rumah tangga jadi lebih terjaga. "Jadi kalau diringkas, sektor yang paling relevan adalah transportation, petrochemical, dan consumer," ucapnya. Secara historis, stimulus seperti ini biasanya lebih terasa ke sentimen jangka pendek dan volume transaksi atau traffic, bukan langsung mengubah fundamental emiten secara drastis.
Baca Juga: Niramas Utama (JELI) Pangkas SKU Bermargin Rendah, Laba Melonjak 220% Jelang IPO Misalnya saat ada stimulus transportasi atau bantuan sosial, dampaknya umumnya terlihat pada kenaikan mobilitas, okupansi, penjualan musiman, dan perbaikan konsumsi, sehingga emiten transportasi, ritel, dan consumer relatif lebih cepat merespons. Tetapi efeknya sering bersifat temporer, sehingga keberlanjutannya tetap tergantung kondisi makro lain seperti daya beli riil, inflasi pangan, rupiah, dan
foreign flow. Dus, stimulus memang bisa membantu, tetapi biasanya berfungsi sebagai penyangga pertumbuhan dan bukan
game changer tunggal untuk kinerja emiten. Adapun Liza melihat sejumlah sektor dan emiten berpotensi menjadi penerima manfaat dari paket stimulus yang digulirkan pemerintah. Pada sektor ritel dan konsumer, emiten seperti AMRT, MIDI, ACES, ERAA, dan MAPI diperkirakan memperoleh sentimen positif. “Stimulus konsumsi dan bantuan beras berpotensi menjaga daya beli sehingga mendukung penjualan ritel,” ujar Liza. Selain itu, emiten consumer staples seperti ICBP, INDF, MYOR, dan UNVR juga berpeluang merasakan dampak positif. Liza menjelaskan, konsumsi kebutuhan pokok cenderung tetap terjaga seiring terpeliharanya daya beli masyarakat, sehingga permintaan terhadap produk-produk konsumsi sehari-hari dapat tetap stabil. Dari sektor petrokimia, TPIA menjadi salah satu emiten yang berpotensi diuntungkan. Pasalnya, kebijakan pembebasan bea masuk untuk LPG industri dan bahan baku plastik berpeluang menekan biaya produksi sekaligus memperbaiki margin keuntungan perusahaan. Sementara itu, pada sektor consumer non-cyclicals, emiten unggas seperti CPIN, JPFA, MAIN, dan AYAM diperkirakan turut mendapat manfaat. Liza bilang bantuan beras 10 kilogram dapat mengurangi beban pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pokok, sehingga sebagian alokasi anggaran masyarakat berpotensi dialihkan ke konsumsi protein, termasuk ayam dan telur. "Jika daya beli masyarakat membaik, permintaan produk unggas berpotensi ikut meningkat," tambah Liza. Apabila dikaitkan dengan tema stimulus ini, Elandry melihat JSMR, TPIA, dan ICBP relatif menarik. JSMR menarik untuk tema kenaikan mobilitas liburan dan trafik kendaraan, TPIA relevan karena insentif LPG/bahan baku plastik bisa menopang efisiensi biaya, sedangkan ICBP lebih ke tema defensif konsumsi dan daya beli yang dijaga pemerintah.
Untuk pendekatan konservatif, Elandry menempatkan JSMR dan ICBP sebagai pilihan utama, sementara TPIA lebih cocok untuk investor dengan toleransi volatility lebih tinggi.
Baca Juga: Barito Pacific (BRPT) Bagi Dividen Lagi Setelah Vakum 1 Tahun, Segini Besarannya Dari sisi target harga, saham JSMR di kisaran Rp 3.300–Rp 3.800, ICBP Rp 8.000 - Rp 9.000, dan TPIA Rp 2.500 - Rp 3.000 untuk horizon hingga 12 bulan, dengan catatan pergerakannya tetap akan sangat dipengaruhi market sentiment, harga energi, rupiah, dan capital flow asing. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News