Pemerintah ingin dorong ekspor tekstil, ini komentar Sri Rejeki Isman (SRIL)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) menyambut positif rencana pemerintah untuk mendorong ekspor tekstil ke Amerika Serikat (AS) dan Australia. Upaya tersebut dinilai bisa menjadi peluang bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berkembang lebih luas.

Direktur Utama SRIL Iwan Setiawan Lukminto mengungkapkan, saat ini industri TPT Indonesia baru berkontribusi 2%-3% terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan kondisi pelemahan rupiah, SRIL menilai justru itu dapat meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

"Trade war antara AS dan China bisa menjadi opportunity untuk ekspor ke kedua negara tersebut," ungkap Iwan kepada Kontan.co.id, Selasa (18/9).


Saat ini China masih menjadi kontributor terbesar untuk pasokan global, yakni sekitar 30% dengan tujuan terbesar ke AS. "Jadi itu adalah pie (market share) yang bisa dibidik oleh industri TPT Indonesia. Tetapi bukan berarti kita tidak berusaha, karena banyak saingan lain seperti Vietnam dan Bangladesh," ungkapnya.

Untuk itu, SRIL mendukung upaya pemerintah untuk memperluas pasar ekspor, begitu juga dengan upaya untuk meningkatkan daya saing domestik seperti pengaturan harga bahan baku dan pengaturan impor barang jadi.

Dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Januari-Agustus 2018 ekspor produk tekstil meningkat 4,96% dan pakaian 9,08%. Melihat dari data ini, maka posisi ekspor Indonesia masih jauh dari target kenaikan 20%-25%.

"Meski begitu kita optimistis target ini bisa dicapai beberapa tahun ke depan," jelasnya.

Sebagai informasi, saat ini SRIL sudah mengekspor produknya ke lebih dari 100 negara di berbagai benua. Porsi ekspornya mencapai 56%-58%, dengan negara tujuan ekspor terbesar adalah Amerika, Jepang, Malaysia, Uni Emirates Arab dan China.

"Ke depan, kami akan terus mendiversifikasi market luar negeri kami dengan berbagai produk dari spinning, weaving, finishing, hingga garmen. Saat ini, kami fokus kepada negara tujuan ekspor di Asia," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi