KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proyek
Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, telah mencapai 99% penyelesaian. Proyek pengembangan kilang senilai US$ 7,4 miliar atau sekitar Rp 126 triliun ini diharapkan memperkuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi (Menko Hiltrans) / Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pekerjaan RDMP Balikpapan kini memasuki tahap akhir. Pekerjaan yang tersisa terutama berupa penyesuaian teknis dan commissioning peralatan baru sebelum kilang beroperasi secara optimal.
Baca Juga: SRAJ Targetkan Gedung Keempat Mayapada Hospital Tangerang Beroperasi Kuartal I-2027 “Untuk RDMP keseluruhan sudah 99%, sudah selesai. Cuma perintil-perintilnya, biasalah barang baru. Tapi insyaallah kita akan selesaikan,” ujar Bahlil dalam keterangannya saat meninjau Kilang Balikpapan, Kamis (22/10/2026). Di tengah penyelesaian proyek tersebut, pemerintah memastikan ketersediaan BBM nasional tetap aman. Bahlil menyebut stok Pertalite mencukupi untuk kebutuhan selama 16–18 hari, sedangkan stok BBM nonsubsidi dengan nilai oktan atau RON 92, 95, dan 98 tersedia untuk lebih dari 20 hari. Adapun pasokan solar nasional disebut tidak mengalami kendala karena kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi tanpa impor. Ketersediaan BBM di Kalimantan juga relatif setara dengan rata-rata nasional. Selain menjaga stok, pemerintah meminta PT Pertamina mengoptimalkan distribusi BBM, terutama BBM bersubsidi, agar tepat sasaran. Pengawasan penyaluran akan diperkuat bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, termasuk TNI dan Polri, untuk menindak praktik penimbunan.
Baca Juga: Pemerintah Siap Membangun PLTN, Ini Tujuh Rekomendasi Dewan Energi Nasional Distribusi BBM terkendala El Niño Meski stok nasional dinyatakan aman, tantangan distribusi masih terjadi di sejumlah wilayah. Bahlil mengungkapkan, fenomena El Niño menyebabkan pendangkalan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat sehingga mengganggu jalur pengiriman BBM. Untuk mengatasi kendala tersebut, Pertamina memanfaatkan kapal sebagai penampungan terapung atau floating storage. BBM kemudian disalurkan ke daerah tujuan melalui jalur darat. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pasokan BBM tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga kelancaran distribusi hingga ke konsumen. Dalam jangka panjang, RDMP Balikpapan diharapkan menjadi salah satu penopang utama pemenuhan kebutuhan BBM domestik.
Setelah beroperasi penuh, kilang tersebut diproyeksikan mampu memenuhi sekitar 22%–25% kebutuhan BBM nasional. Dengan kapasitas tersebut, proyek strategis nasional ini diharapkan memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan kebutuhan impor BBM. Pemerintah menempatkan pengembangan kilang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan pengolahan minyak di dalam negeri dan mendukung agenda hilirisasi energi.
Baca Juga: Tunas Baru Lampung (TBLA) Klarifikasi Afiliasi ke Perusahaan Terduga Karhutla Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News