KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menargetkan realisasi investasi pada 2027 mencapai Rp 2.322 triliun. Target tersebut meningkat 13,8% dibandingkan target investasi pada 2026. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai target tersebut masih dapat dicapai, namun membutuhkan penguatan pertumbuhan investasi dibandingkan tren yang terjadi pada semester I 2026. Menurut Yusuf, angka kenaikan 13,8% tersebut merupakan perbandingan antara target dengan target. Sementara itu, realisasi investasi semester I 2026 baru mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan.
Baca Juga: Pemerintah Masih Siapkan Aturan Insentif Motor Listrik Rp 5juta per unit "Kalau tren ini bertahan sampai akhir tahun, realisasi 2026 kemungkinan berada di kisaran Rp 2.070 triliun hingga Rp 2.100 triliun," kata Yusuf kepada Kontan, Senin (17/8/2026). Dengan perkiraan tersebut, investasi pada 2027 perlu tumbuh sekitar 11% hingga 12% agar dapat mencapai target Rp 2.322 triliun. Artinya, pertumbuhan investasi harus kembali menguat setelah mengalami perlambatan pada paruh pertama tahun ini. Sebagai pembanding, investasi pada 2025 tumbuh 12,7% menjadi Rp 1.931,2 triliun dan berhasil melampaui target pemerintah. Yusuf menilai salah satu tantangan utama adalah melambatnya investasi hilirisasi mineral yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan investasi. Pada 2025, investasi hilirisasi tumbuh 43,3%, sedangkan pada semester I 2026 pertumbuhannya hanya sekitar 6,9%. Menurut dia, siklus pembangunan smelter juga mulai memasuki fase yang lebih matang sehingga ruang ekspansi dari sektor tersebut tidak sebesar beberapa tahun sebelumnya. Dari sisi permintaan, kondisi konsumsi rumah tangga juga perlu menjadi perhatian. Pelemahan indeks keyakinan konsumen dan kontraksi penjualan riil dalam beberapa bulan terakhir berpotensi memengaruhi keputusan dunia usaha untuk menambah kapasitas produksi. "Investasi biasanya akan lebih kuat ketika pelaku usaha melihat prospek permintaan yang cukup jelas, baik dari pasar domestik maupun ekspor," ujarnya.
Baca Juga: Pemerintah Masih Siapkan Aturan Insentif Motor Listrik Rp 5juta per unit Selain itu, sumber pembiayaan investasi juga menjadi faktor penting. Pemerintah berharap peran Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), termasuk melalui Danantara, semakin besar. Namun, Yusuf mengingatkan tambahan modal tersebut perlu benar-benar menciptakan kapasitas ekonomi baru. Jika hanya berupa realokasi modal dari entitas yang sudah ada, dampaknya terhadap pembentukan modal baru akan lebih terbatas. Meski demikian, terdapat sejumlah indikator positif. Target investasi 2025 berhasil dicapai, sementara penyerapan tenaga kerja pada semester I 2026 meningkat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nilai investasi. Hal tersebut menunjukkan dampak investasi terhadap penciptaan lapangan kerja masih cukup kuat. Namun, tren tersebut perlu dipantau ketika struktur investasi mulai bergeser dari proyek padat modal seperti smelter. Yusuf menilai pemerintah perlu memperluas sumber pertumbuhan investasi ke sektor di luar mineral. Beberapa sektor yang dinilai berpotensi antara lain energi terbarukan, industri berbasis teknologi, manufaktur, dan hilirisasi perkebunan. Pada saat yang sama, pemulihan konsumsi dan peningkatan produktivitas investasi menjadi faktor penting. Dengan ICOR yang masih berada di kisaran enam, kenaikan nilai investasi belum tentu sejalan dengan kenaikan output jika efisiensi modal tidak membaik. "Target investasi tersebut akan lebih bermakna apabila diikuti peningkatan kapasitas produksi, produktivitas, dan penyerapan tenaga kerja," tegas Yusuf.
Baca Juga: Pemerintah Masih Siapkan Aturan Insentif Motor Listrik Rp 5juta per unit Sementara itu, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman menilai, target investasi Rp2.322 triliun pada 2027 masih realistis, tetapi membutuhkan dorongan yang jauh lebih kuat dibandingkan tren saat ini. Menurut Rizal, kenaikan target sebesar 13,8% bukan angka yang kecil, terutama di tengah ketidakpastian global, tingginya biaya pembiayaan, dan persaingan antarnegara yang semakin ketat dalam menarik investasi. Oleh karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan proyek-proyek besar yang telah masuk dalam pipeline. Pemerintah juga perlu memastikan adanya investasi baru yang benar-benar terealisasi di lapangan. Rizal juga menyoroti struktur investasi yang masih bergantung pada hilirisasi. Menurutnya, ketergantungan yang terlalu besar pada komoditas dan mineral membuat investasi rentan terhadap perubahan harga global. Ia mendorong pemerintah memperluas investasi ke manufaktur berorientasi ekspor, agroindustri, ketahanan pangan, energi, ekonomi digital, serta sektor padat karya. "Dengan demikian, yang dikejar bukan hanya besaran investasi, tetapi juga kualitas serta dampaknya terhadap perekonomian nasional," ujar Rizal. Rizal menambahkan, perbaikan iklim investasi menjadi kunci pencapaian target tersebut. Kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, kemudahan perizinan, penyelesaian persoalan lahan, efisiensi biaya logistik dan energi, serta kepastian hukum dinilai menjadi faktor penentu bagi investor. Dalam persaingan global, investor tidak hanya mempertimbangkan insentif, tetapi juga risiko usaha dan kepastian imbal hasil dibandingkan negara lain.
Baca Juga: Target Investasi 2027 Naik 13,8%, Pemerintah Andalkan Percepatan Perizinan Oleh karena itu, target Rp 2.322 triliun sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai angka penerimaan investasi, melainkan juga sebagai ukuran keberhasilan reformasi investasi. Jika reformasi dijalankan secara konsisten dan sumber investasi semakin terdiversifikasi, Rizal menilai target tersebut masih realistis. Namun, apabila ketergantungan terhadap hilirisasi mineral dan proyek yang sudah ada tetap dominan, pencapaiannya akan semakin berat dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi berpotensi terbatas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News