KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi menyesuaikan besaran biaya tambahan bahan bakar (
fuel surcharge) untuk angkutan udara dalam negeri menjadi 38%. Menanggapi hal ini, PT Pertamina Patra Niaga memastikan ketersediaan pasokan avtur nasional tetap terjaga untuk mendukung operasional maskapai. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth Dumatubun menjelaskan bahwa harga avtur di Indonesia bersifat dinamis. "Pada prinsipnya avtur ini mengikuti harga keekonomian di Indonesia yang mengacu pada harga global," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Harga Avtur Melonjak 38%, Citilink Akan Sesuaikan Harga Tiket Pesawat Meski harga sangat dipengaruhi sentimen global, Roberth menegaskan bahwa ketahanan pasokan dalam negeri berada dalam posisi yang aman. Menurutnya, didukung oleh kemampuan produksi mandiri yang dilakukan melalui kilang-kilang milik Pertamina. "Untuk produksi avtur sudah bisa diproduksi di kilang dalam negeri sehingga mencukupi," jelasnya. Ia mengungkapkan bahwa Pertamina terus memantau pergerakan harga agar tetap sejalan dengan regulasi yang berlaku namun tetap menjamin distribusi ke seluruh bandara. Di sisi lain, pemerintah juga telah menyiapkan instrumen pelindung agar kenaikan biaya tambahan ini tidak terlalu menekan industri penerbangan dan konsumen. "Pemerintah sudah memberikan kompensasi berupa PPN yang ditanggung. Untuk menjaga kestabilan," ungkapnya Lebih lanjut, Roberth menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan konektivitas udara tidak terganggu demi menjaga roda ekonomi. "Kepentingan nasional ini dijaga agar daya beli tetap terjaga, untuk ketersediaan sampai saat ini dalam kondisi cukup. Ketersediaannya kita jaga cukup," jelasnya.
Baca Juga: Pasokan Seret, Kemenperin & Pelaku Industri Petrokimia Cari Sumber Alternatif Plastik Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga tiket pesawat hanya naik 9% hingga 13%, di tengah kenaikan harga avtur.
Airlangga menegaskan, kebijakan ini dilakukan sejalan dengan harga-harga avtur di berbagai negara yang sudah mengalami peningkatan. Misalnya saja di Thailand sudah mencapai Rp 29.518 per liter, di Filipina mencapai Rp 25.326 per liter. Sementara itu, Airlangga mencatat di Bandara Soekarno Hatta, harga avtur mencapai Rp 23.551 per liter. "Tentunya kalau tidak menyesuaikan, di berbagai maskapai penerbangan lain bisa memanfaatkan, perbedaan harga tersebut," katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News