KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyebut posisi Indonesia saat ini telah masuk kategori negara berpendapatan menengah atas (upper middle income). Namun di saat yang sama, tren lapangan kerja sektor formal justru menunjukkan penurunan, terutama di kalangan kelas menengah. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengingatkan, meski Indonesia telah naik kelas, posisinya masih berada di batas bawah kategori tersebut. Produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia tercatat sekitar US$ 5.083 per tahun, masih jauh dari ambang negara berpendapatan tinggi yang berada di kisaran US$ 14.000 per tahun. “Indonesia memang sudah masuk upper middle income, tapi masih di level paling bawah. Ini menjadi tantangan besar untuk bisa naik ke high income,” ujar Susiwijono dalam paparannya di Jakarta, Rabu (15/4/2026). Baca Juga: 33 Tahun Terjebak di Middle Income Trap, Indonesia Berpeluang Keluar pada 2038–2045 Ia menjelaskan, kategori kelas menengah mengacu pada tingkat pengeluaran bulanan. Berdasarkan referensi Bank Dunia, kelompok kelas menengah memiliki pengeluaran Rp 2 juta hingga Rp 9,9 juta per bulan. Sementara kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class) berada di kisaran Rp 870.000 hingga Rp 2 juta per bulan. Dari sisi komposisi, jumlah kelas menengah mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, proporsi kelas menengah mencapai sekitar 21,5% dari total penduduk. Namun kini turun menjadi sekitar 17%. Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah meningkat dari 48% menjadi sekitar 49,2%. Secara total, gabungan kelas menengah dan calon kelas menengah mencapai sekitar 66,3% populasi atau sekitar 185 juta orang. Kelompok ini menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54%–55% terhadap perekonomian nasional. “Sekitar 80% konsumsi rumah tangga disumbang oleh kelas menengah, dengan share ke ekonomi sekitar 54%-55%, sehingga perannya sangat penting sekali bagi pertumbuhan ekonomi,” jelasnya. Baca Juga: 86 Juta Warga Terjepit: Kelas Menengah Indonesia Terancam Jatuh! Dari pola pengeluaran, kelas menengah cenderung membelanjakan lebih banyak untuk kebutuhan non-makanan, seperti pendidikan, transportasi, hingga produk teknologi. Selain itu, mayoritas kelas menengah tinggal di wilayah perkotaan, dengan proporsi mencapai 73%. Namun, perubahan juga terjadi pada struktur pekerjaan. Susiwijono mencatat adanya pergeseran lapangan kerja dari sektor formal ke informal. Kelas menengah kini semakin banyak bekerja di sektor usaha non-formal, sementara kontribusi sektor manufaktur dan industri cenderung menurun. "Nah ini yang harus hati-hati, karena secara sektoral, ekonomi kita paling tinggi dari industri manufaktur, yang hampir 19% (ke PDB),” ujarnya. Pemerintah pun menilai penguatan kelas menengah menjadi kunci agar Indonesia dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dan naik ke level negara maju. Upaya tersebut mencakup penciptaan lapangan kerja formal, peningkatan produktivitas industri, serta menjaga daya beli masyarakat. "Nah, yang paling penting, setiap tahun kita dorong untuk mendorong sektor kelas menengah ini, pemerintah biasanya perhatian kedua hal, sektor properti dan sektor kendaraan, otomotif. Karena ini konsumennya adalah kelas menengah," jelas Susi.
Pemerintah Klaim RI Naik ke Upper Middle Income, Tapi Lapangan Kerja Formal Menyusut
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyebut posisi Indonesia saat ini telah masuk kategori negara berpendapatan menengah atas (upper middle income). Namun di saat yang sama, tren lapangan kerja sektor formal justru menunjukkan penurunan, terutama di kalangan kelas menengah. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengingatkan, meski Indonesia telah naik kelas, posisinya masih berada di batas bawah kategori tersebut. Produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia tercatat sekitar US$ 5.083 per tahun, masih jauh dari ambang negara berpendapatan tinggi yang berada di kisaran US$ 14.000 per tahun. “Indonesia memang sudah masuk upper middle income, tapi masih di level paling bawah. Ini menjadi tantangan besar untuk bisa naik ke high income,” ujar Susiwijono dalam paparannya di Jakarta, Rabu (15/4/2026). Baca Juga: 33 Tahun Terjebak di Middle Income Trap, Indonesia Berpeluang Keluar pada 2038–2045 Ia menjelaskan, kategori kelas menengah mengacu pada tingkat pengeluaran bulanan. Berdasarkan referensi Bank Dunia, kelompok kelas menengah memiliki pengeluaran Rp 2 juta hingga Rp 9,9 juta per bulan. Sementara kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class) berada di kisaran Rp 870.000 hingga Rp 2 juta per bulan. Dari sisi komposisi, jumlah kelas menengah mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, proporsi kelas menengah mencapai sekitar 21,5% dari total penduduk. Namun kini turun menjadi sekitar 17%. Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah meningkat dari 48% menjadi sekitar 49,2%. Secara total, gabungan kelas menengah dan calon kelas menengah mencapai sekitar 66,3% populasi atau sekitar 185 juta orang. Kelompok ini menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54%–55% terhadap perekonomian nasional. “Sekitar 80% konsumsi rumah tangga disumbang oleh kelas menengah, dengan share ke ekonomi sekitar 54%-55%, sehingga perannya sangat penting sekali bagi pertumbuhan ekonomi,” jelasnya. Baca Juga: 86 Juta Warga Terjepit: Kelas Menengah Indonesia Terancam Jatuh! Dari pola pengeluaran, kelas menengah cenderung membelanjakan lebih banyak untuk kebutuhan non-makanan, seperti pendidikan, transportasi, hingga produk teknologi. Selain itu, mayoritas kelas menengah tinggal di wilayah perkotaan, dengan proporsi mencapai 73%. Namun, perubahan juga terjadi pada struktur pekerjaan. Susiwijono mencatat adanya pergeseran lapangan kerja dari sektor formal ke informal. Kelas menengah kini semakin banyak bekerja di sektor usaha non-formal, sementara kontribusi sektor manufaktur dan industri cenderung menurun. "Nah ini yang harus hati-hati, karena secara sektoral, ekonomi kita paling tinggi dari industri manufaktur, yang hampir 19% (ke PDB),” ujarnya. Pemerintah pun menilai penguatan kelas menengah menjadi kunci agar Indonesia dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dan naik ke level negara maju. Upaya tersebut mencakup penciptaan lapangan kerja formal, peningkatan produktivitas industri, serta menjaga daya beli masyarakat. "Nah, yang paling penting, setiap tahun kita dorong untuk mendorong sektor kelas menengah ini, pemerintah biasanya perhatian kedua hal, sektor properti dan sektor kendaraan, otomotif. Karena ini konsumennya adalah kelas menengah," jelas Susi.