Pemerintah melelang secara terbatas SBN dengan nilai Rp 15,65 triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menggenjot penerbitan surat berharga negara (SBN) melalui private placement sejak awal kuartal III-2018. Hal ini dilakukan untuk mengejar target penerbitan SBN sepanjang triwulan ketiga yang mencapai Rp 181 triliun.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pada Juli 2018, pemerintah telah menggelar empat kali private placement. Rinciannya, ada private placement untuk tiga seri surat utang negara (SUN) dan private placement satu seri surat berharga syariah negara (SBSN).

Private placement makin gencar dilaksanakan pada Agustus 2018. Bulan lalu, ada tujuh kali penawaran surat utang secara tertutup. Saat itu, pemerintah melakukan penawaran sembilan seri SUN dan SBSN.


Secara kumulatif, nilai penerbitan SBN melalui private placement Juli-Agustus 2018 mencapai sekitar Rp 15,65 triliun.

Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan, pemerintah melakukan private placement sebagai alternatif untuk menggenjot penerbitan SBN di kuartal III. Sejak Juli hingga Agustus, pemerintah baru menyerap dana dari lelang SBN sebesar Rp 116,7 triliun.

Analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Ifan Mohamad Ihsan mengatakan, pemerintah perlu mencari alternatif pendanaan melalui private placement karena kini pemerintah menghadapi kenaikan suku bunga. Pemerintah harus cermat menerbitkan surat utang agar cost of fund tidak membengkak.

Dengan skema private placement, pemerintah bisa menambah pendanaan sekaligus melakukan diversifikasi tenor. Bagi investor, private placement bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan, tanpa harus mencari di pasar sekunder. 

"Skema private placement akan menguntungkan , karena umumnya surat utang yang ditawarkan bukan yang biasanya ditawarkan pada lelang," kata Ifan, Jumat (31/8). 

Penyerapan kecil  

Bagi pasar obligasi, skema ini bisa berdampak positif, karena menambah likuiditas di pasar sekunder. Maklum, selama ini likuiditas surat utang hanya bergerak di seputar seri-seri yang sering dilelang. Sedangkan seri lainnya kurang likuid.

Made sependapat, dengan private placement, investor bisa mendapatkan surat utang sesuai kebutuhan. Sebab, pada lelang, belum tentu mendapatkan jumlah sesuai dengan kebutuhan

Tapi, skema private placement, tidak bisa mencerminkan kondisi biding atau yield yang diminta investor. Sebab, dengan skema ini, biasanya surat utang ditawarkan hanya bagi beberapa pihak, seperti asuransi dan dana pensiun.

Menurut Made, pemerintah lebih baik memaksimalkan lelang, sebab penyerapan saat lelang bisa lebih banyak. Nilai penerbitan private placement umumnya hanya ratusan miliar hingga Rp 1 triliun.