KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah masih menggodok lokasi terbaik untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor keuangan di Bali. Hal ini dilakukan di tengah ambisi menjadikan Indonesia sebagai alternatif pusat finansial regional yang mampu bersaing dengan Singapura dan Hong Kong. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan final terkait lokasi KEK keuangan tersebut.
Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 17.400 per Dolar AS, BI Lakukan Intervensi untuk Jaga Rupiah Sejumlah kawasan di Bali masih dalam tahap evaluasi, termasuk KEK Sanur dan KEK Kura-Kura Bali yang telah lebih dulu berjalan. "Belum dipilih, kan ada beberapa KEK di sana yang sudah jalan, yaitu Sanur dan Kura-Kura. Kemudian kita juga lihat di wilayah Barat dan juga ada lokasi lain," ujar Airlangga kepada awak media di Jakarta, Senin (4/5). Salah satu alternatif yang tengah dikaji adalah kawasan di sekitar Tanjung Benoa. Pemerintah menilai lokasi tersebut memiliki peluang strategis untuk dikembangkan sebagai pusat jasa keuangan baru, seiring meningkatnya kebutuhan akan
financial hub di kawasan Asia. Menurut Airlangga, pengembangan KEK keuangan ini didorong oleh peluang besar di sektor jasa finansial global. Ia menilai kondisi geopolitik saat ini justru membuka ruang bagi Indonesia untuk masuk sebagai pemain baru dalam peta pusat keuangan dunia. "Jadi kita melihat bahwa ke depan ini kan yang
financial center itu ada peluang. Nah oleh karena itu kita mematangkan mengenai potensi lokasinya," katanya.
Baca Juga: Ekonom Ini Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Capai 5,44% pada Kuartal I 2026 Terkait insentif, Airlangga mengakui bahwa pelaku industri menginginkan berbagai kemudahan, termasuk fasilitas perpajakan yang kompetitif. Ia mencontohkan skema yang diterapkan di Dubai International Financial Centre (DIFC) yang memberikan berbagai insentif pajak untuk menarik investor global. Oleh karena itu, pemerintah akan memberikan insentif menarik seperti pajak nol persen. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa KEK keuangan yang tengah disiapkan tidak akan menjadi sekadar
tax haven. Fokus utama kebijakan ini tetap pada upaya menarik investasi berkualitas yang memberikan dampak ekonomi nyata. "Yang paling penting kan tujuannya adalah untuk menarik investasi. Investasi itu potensinya berbagai macam," Imbuhnya.
Baca Juga: Jelang Rilis Data PDB Kuartal I, Sejumlah Ekonom Memrediksi Ekonomi Tumbuh di Atas 5% Ia juga menyoroti dominasi Singapura sebagai pusat keuangan di kawasan Asia Tenggara yang hingga kini belum memiliki pesaing signifikan. Kondisi geopolitik global, terutama di Timur Tengah, disebut semakin memperkuat posisi Singapura. Saat ini, menurutnya, pilihan pusat keuangan global di kawasan hanya didominasi oleh Singapura dan Hong Kong. Namun Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk masuk dan bersaing dalam lanskap tersebut. "Nah tentu kita juga punya potensi untuk menarik ke sana," kata Airlangga. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News