Pemerintah Menyiapkan Enam Strategi Perkuat Ekosistem Digital Nasiona



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan konektivitas digital, keamanan siber, hingga pengembangan talenta menjadi fokus pemerintah mempercepat transformasi digital nasional. Upaya tersebut untuk meningkatkan daya saing Indonesia sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi.

Komitmen tersebut menjadi agenda dalam Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2026. Kegiatan inii bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhakti Postel ke-81.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, pemerintah telah menyiapkan enam strategi untuk memperkuat ekosistem digital nasional.


Strategi tersebut meliputi penguatan konektivitas melalui pemerataan infrastruktur dan jaringan internet, pengembangan talenta digital, kolaborasi lintas sektor, peningkatan investasi, penyempurnaan regulasi, hingga penciptaan ekosistem pasar yang sehat.

"Kita butuh investasi yang bukan hanya kapital tetapi juga pengetahuan. Kita butuh teknologi yang inovatif, aman, dan bertanggung jawab," ujarnya

Edwin menambahkan, investasi tersebut diharapkan mampu mendorong pemanfaatan teknologi yang tidak hanya memperluas konektivitas, tetapi juga memperkuat perlindungan data dan mendukung pembangunan ekonomi digital yang berkelanjutan.

Baca Juga: Toyota Motor (TMMIN) Optimistis Ekspor Kendaraan Naik Meski Dibayangi Geopolitik

Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, penguatan ekosistem digital menjadi salah satu prioritas pemerintah. Menurutnya, pengembangan talenta menjadi faktor penting agar Indonesia mampu membangun industri digital secara mandiri.

"Tanpa ekosistem talenta, semikonduktor atau yang lainnya tidak akan jalan. Kita tidak ingin talenta yang akan mengisi digital harus outsource lagi dari luar negeri," katanya.

Di sisi lain, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno menilai, penguatan konektivitas digital perlu diiringi percepatan adopsi teknologi baru.

Menurutnya, Indonesia perlu mempercepat pengembangan jaringan 5G, teknologi kriptografi kuantum, jaringan satelit non-terestrial, serta kapasitas pusat data untuk mengimbangi kebutuhan penyimpanan dan pengelolaan data yang terus meningkat.

"Indonesia harus loncat segera ke 5G, Indonesia harus loncat segera ke kripto kuantum, kemudian Indonesia harus loncat juga ke satelit non-terrestrial network. Kita juga harus loncat ke persediaan data center yang kapasitasnya memenuhi kebutuhan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi, mengingatkan, percepatan transformasi digital harus dibarengi dengan penguatan keamanan siber. Menurutnya, sebagian besar insiden siber justru dipicu oleh kelemahan internal, seperti kebocoran kredensial, serangan malware, maupun kesalahan manusia.

"Mayoritas insiden justru diawali oleh kerentanan internal, seperti bocornya kredensial, malware, hingga kelalaian manusia. Oleh karena itu kita wajib berkolaborasi melalui pertukaran informasi ancaman, penerapan regulasi, serta membangun keamanan sejak tahap perancangan sistem," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News