Pemerintah Minta Pasokan Batubara PLN Ditambah, Begini Prospek Emiten Sektor Batubara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Baru-baru ini pemerintah melalui Kementerian ESDM meminta badan usaha pertambangan untuk memasok batubara hingga 212 juta ton ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi kinerja emiten-emiten produsen batubara yang memiliki orientasi penjualan ke pasar dalam negeri.

Dalam berita sebelumnya, langkah strategis ini diambil pemerintah untuk memastikan kecukupan dan keberlanjutan pasokan batubara bagi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLN. Angka penugasan ini juga lebih tinggi dibandingkan proyeksi kebutuhan batubara PLN sebesar 154 juta pada 2026.

Hingga Mei 2026, sebanyak 144 juta ton batubara penugasan telah dikontrakkan dengan perkiraan realisasi pengiriman mencapai 130,5 juta ton.


Baca Juga: Penjualan Mobil Astra International (ASII) Tumbuh, Ini Rekomendasinya

Salah satu emiten batubara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berkomitmen untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional, termasuk melalui pemenuhan kebutuhan batubara untuk sektor ketenagalistrikan. PTBA juga senantiasa memastikan ketersediaan pasokan bagi pasar domestik sesuai ketentuan yang berlaku.

Hingga saat ini, komposisi penjualan batubara PTBA masih didominasi oleh pasar domestik, yaitu sekitar 60%, sementara sekitar 40% dialokasikan untuk pasar ekspor. Komposisi ini dapat menyesuaikan dengan dinamika permintaan pasar dan kebijakan pemerintah.

PTBA secara konsisten menjalankan berbagai program efisiensi di seluruh rantai nilai bisnis untuk menjaga profitabilitas di tengah perbedaan harga Domestic Market Obligation (DMO) dan harga batubara di pasar global. 

“Upaya tersebut meliputi peningkatan produktivitas operasional, optimalisasi biaya produksi dan logistik, penguatan sinergi dengan mitra usaha dan entitas dalam MIND ID Group, serta peningkatan efektivitas pengelolaan rantai pasok,” ujar Corporate Secretary Division Head  PT Bukit Asam Tbk Eko Prayitno, Selasa (14/7/2026).

Head of Corporate Communications PT Indika Energy Tbk (INDY) Ricky Fernando menyatakan, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional, termasuk pemenuhan kebutuhan batubara untuk sektor ketenagalistrikan.

INDY melalui Kideco Jaya Agung tetap memprioritaskan penjualan batubara ke pasar domestik. Pada kuartal I-2026, penjualan ke pasar Indonesia mencapai kisaran 45% dari total penjualan Kideco.

Baca Juga: BEI Tegaskan Saham Terkonsentrasi Tinggi (HSC) Tak Bisa Masuk LQ45 hingga IDX80

Emiten ini berupaya terus memperkuat efisiensi operasional tambang melalui perencanaan yang lebih baik, digitalisasi proses kerja, dan optimalisasi logistik agar biaya produksi per ton atau cash cost tetap kompetitif.

“Upaya ini penting untuk menjaga keandalan pasokan bagi pasar domestik, sekaligus mempertahankan daya saing perusahaan di tengah kondisi pasar yang dinamis,” tutur dia, Selasa (14/7/2026).

Secara terpisah, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, penugasan pasokan batubara sebanyak 212 juta ton dapat menjadi sentimen positif dari sisi kepastian volume penjualan domestik. Namun, angka tersebut tidak berarti seluruhnya akan diserap PLN.

Selisih antara pasokan dan kebutuhan aktual kemungkinan menjadi bantalan untuk mengantisipasi kendala logistik, ketidaksesuaian spesifikasi batubara, maupun tidak terpenuhinya kontrak oleh sebagian pemasok.

Menurut Ekky, sejumlah emiten kemungkinan perlu menyesuaikan komposisi penjualan antara pasar domestik dan ekspor, terutama apabila alokasi DMO meningkat. Memang, dampaknya terhadap margin laba bakal cenderung negatif, karena harga DMO untuk sektor ketenagalistrikan masih jauh lebih rendah dibandingkan harga ekspor. 

“Semakin besar porsi DMO, semakin besar potensi penurunan harga jual rata-rata, terutama bagi emiten yang sebelumnya memiliki eksposur ekspor tinggi,” kata dia, Selasa (14/7/2026).

Namun, Ekky memandang dampak penugasan tersebut berbeda pada setiap emiten. Produsen batubara dengan biaya produksi rendah, lokasi tambang yang dekat dengan pembangkit, serta infrastruktur logistik terintegrasi akan lebih mampu menjaga margin.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menimpali, penugasan pasokan batubara yang melampaui kebutuhan PLN akan memberikan kepastian off-take di pasar domestik, namun berpotensi menekan bauran harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) jika porsi DMO meningkat lampaui kewajiban di kisaran 25%—30%.

Selain itu, selisih harga DMO di level US$ 70 per ton dengan harga jual ekspor sekitar US$ 120—130 per ton juga masih sangat lebar, sehingga menjadi risiko utama jika emiten dipaksa memasok lebih banyak batubara ke pasar domestik.

Dalam kondisi seperti saat ini, emiten batubara perlu aktif bernegosiasi agar realisasi penjualan ke PLN tetap di level minimum kewajiban DMO, sehingga sisa volume bisa diarahkan ke pasar ekspor yang menjanjikan margin tinggi. Selain itu, emiten perlu mempercepat efisiensi cash cost lewat optimalisasi stripping ratio, mengingat satu-satunya cara untuk mendongkrak margin adalah dengan menekan biaya produksi.

“Emiten juga perlu diversifikasi ke mineral kritis jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan pada regulasi batubara yang semakin kompleks,” imbuh dia, Selasa (14/7/2026).

Abida melanjutkan, jika porsi DMO dinaikkan karena penugasan dari pemerintah, maka PTBA berpeluang menjadi emiten yang paling diuntungkan karena model bisnisnya sudah berorientasi dominan ke pasokan domestik dan PLN.

Di sisi lain, Ekky menilai, emiten yang paling siap menghadapi penugasan pasokan batubara ke PLN antara lain PTBA, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Ini mengingat, mereka memiliki skala produksi besar dan jaringan logistik yang kuat.

Secara umum, Ekky memandang bahwa sektor batubara masih memiliki daya tarik, terutama karena permintaan domestik memberikan kepastian volume dan harga global masih relatif tinggi. 

“Namun, investor perlu mencermati risiko tekanan margin akibat DMO, penurunan harga komoditas, kenaikan royalti dan biaya produksi, perubahan kuota RKAB, serta potensi perubahan kebijakan ekspor,” terang dia.

Untuk pilihan saham, Ekky merekomendasikan trading buy atau buy on weakness saham PTBA dengan target harga di area Rp 2.750—Rp 3.000 per saham. Saham AADI juga cukup layak dikoleksi dengan rekomendasi buy on weakness. Target harga AADI ada di kisaran Rp 10.000—Rp 10.500 per saham.

Selain itu, dia juga menyarankan buy on weakness saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga di level Rp 26.350 per saham.

Sementara itu, Abida merekomendasikan beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.100 per saham. PTBA menjadi pilihan utama dalam skenario kenaikan porsi DMO karena paling diuntungkan secara struktural.

Dia juga merekomendasikan beli saham AADI dengan target harga di level Rp 12.400 per saham. Ada pula saham ITMG yang direkomendasikan beli dengan target harga di level Rp 27.300 per saham seiring keunggulan cash cost terendah di industri yang mampu memberikan bantalan margin terkuat di berbagai skenario regulasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News