Pemerintah mulai hitung anggaran orbit Geo 123



JAKARTA. Pemerintah telah menetapkan Airbus Defense Space, perusahaan asal Perancis sebagai pemenang tender pengadaan satelit untuk slot orbit Geo 123 Bujur Timur. Namun, rupanya pemerintah baru menghitung alokasi anggaran ini dalam rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara perubahan (RAPBN-P) 2016.

Pemerintah juga akan mengkaji penganggarannya, lewat APBN murni atau melalui pinjaman.

Sofyan Djalil, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan, alokasi anggaran untuk pengadaan satelit Geo 123 BT masih belum rinci, ternasuk sumber pendanaannmya. "Saya belum tahu sumber pendanaannya,karena belum detail.


"Saya pikir itu memang dibicarakan kemarin tentang ada alokasinya tetapi sumbernya belum tahu dari mana," kata dia, akhir pekan lalu.

Asal tahu saja, pemerintah berinisiatif mengambil alih slot orbit Geo 123 Bujur Timur setelah sebelumnya dipegang pihak swasta PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menugaskan ke Kementerian Pertahanan untuk proses pengambilalihan operator slot ini.

Indonesia juga telah memenangkan jatah slot satelit ini dalam sidang Operator Regular Meeting (ORM) yang digelar di London pada akhir tahun lalu. Ketika itu, Indonesia bersaing dengan perusahaan lain untuk memiliki slot ini, antara lain Inmarsat.

Menurut Sofyan, apabila nantinya anggaran pengadaan satelit ini mengandalkan pembiayaan luar negeri, tentunya pembahasannya akan melalui instansinya. Dia bilang, rencanananya alokasi anggaran satelit akan menggunakan skema tahun jamak alias multiyears.

"Tahun 2016 ini, alokasinya sedikit. Mungkin baru tahap awal saja," kata Sofyan tanpa merinci rencana alokasi anggaran di RAPBN Perubahan 2016 maupun di rancangan tahun depan.

Laksamana Muda TNI Listiyanto, Kepala Pusat Pengadaan Kementerian Pertahanan mengatakan, satelit orbit Geo 123 BT merupakan bagian dari pengadaan alat utama sistem persenjataan. Rencananya, Airbus akan merampungkan pembangunan satelit pada akhir 2018, sehingga dapat diluncurkan ke angkasa pada 2019 mendatang.

Saat ini, untuk mengisi kekosongan pada slot tersebut, Kemhan menyewa satelit dari perusahaan lain untuk terus mengorbit hingga rampungnya satelit dari Airbus. "Jadi kebutuhan anggarannya ada dua, untuk pembangunan satelit dan satu lagi untuk penyewaan," ujarnya tanpa merinci total kebutuhan dananya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News