KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Staf Khusus Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Raden Pardede mengatakan pemerintah optimistis bisa menekan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga 5,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah dari outlook defisit yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Undang-Undang (UU) tentang APBN Tahun Anggaran 2021 sebesar 5,7% dari PDB. Outlook Raden didasari atas pemulihan ekonomi yang berlangsung saat ini. “Di 2021 kita masih mengalami defisit diperkirakan sekitar 5,3% di tahun 2021 ini, sampai 5,7% jadi masih cukup besar,” kata Raden dalam acara yang bertema Bola Liar Vaksinasi Ekonomi, Rabu (7/7).
Kata Raden, angka defisit tersebut bisa ditekan lantaran ekonomi pada kuartal II-201 hingga kuartal IV-2021 akan berada di zona positif, meski di kuartal I-2021 ekonomi minus 0,74% year on year (yoy). Prediksinya, keseluruhan tahun 2021 ekonomi tumbuh 3,7% hingga 4,5% secara tahunan. Baca Juga: Likuiditas berlimpah, penawaran masuk pada lelang SUN (6/7) membeludak Secara sederhana, Raden menjelaskan realisasi dan proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut menyebabkan penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) di kuartal I-2021 masih minus, namun dalam sembilan bulan setelahnya akan tumbuh positif. Tapi, Raden tidak memungkiri dibandingkan 2019 setoran pajak tahun ini masih rendah. “Karena sebagian kalau mereka rugi tidak membayar sebagian rugi di tahun 2020 dan sebagian di 2021, sebagian itu akan terjadi yang kita sebut carry forward loss-nya. Jadi mungkin penerimaan negara di 2021 masih kurang baik tapi defisit kita naik untuk membiayayi belanja,” kata Raden. Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan, memang posisi defisit APBN di semester I-2021 baru mencapai Rp 283,2 triliun, atau setara dengan 1,72% PDB, atau lebih rendah 3,89% dari outlook defisit akhir 2021 yang ditetapkan oleh pemerintah. Adapun, realisasi defisit APBN dalam enam bulan tersebut disebabkan oleh belanja negara yang mencapai Rp 1.170,1 triliun, tumbuh 9,4% yoy. Sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp 886,9 triliun, naik 9,1% secara tahunan. Jika berkaca pada tahun lalu, pemerintah telah diberikan kemewahan untuk mencapai defisit sebesar 6,34% dari PDB. Akan tetapi, realisasinya daya tahan fiskal lebih kuat. Kemenkeu mencatat realisasi defisit sepanjang 2020 lebih rendah dari outlook yakni 6,09% dari PDB. Raden mengatakan, meski defisit tahun ini bisa ditekan, tapi masih lebih besar dari defisit saat periode sebelum pandemi, yakni pada 2019 defisit APBN tercatat sebesar 1,76% dari PDB. Baca Juga: Jaga ekonomi dan kesehatan saat PPKM Darurat, ini 9 jurus Sri Mulyani