Pemerintah, PLN dan IPP Diminta Siaga Hadapi Dampak El Nino pada PLTA dan PLTMH



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena El Nino yang memicu musim kemarau panjang berpeluang datang pada semester II-2026. Pemerintah, PT PLN (Persero) dan perusahaan listrik swasta alias Independent Power Producer (IPP) perlu siaga memitigasi dampak El Nino terhadap operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli–September 2026.

Musim kemarau di Indonesia pada tahun ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normal, sehingga memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino. Apalagi, fenomena El Nino berpotensi akan bertahan hingga awal tahun 2027.


Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) Deon Arinaldo menyoroti ketika El Niño terjadi bersamaan dengan musim kemarau, volume air di bendungan dapat turun signifikan dan berpotensi memengaruhi produksi listrik dari PLTA. Pengalaman sebelumnya menunjukkan fenomena El Niño dapat berdampak langsung terhadap pasokan listrik.

Baca Juga: Dukung Efisiensi, Modena Ekspansi Portofolio Home Appliances dan Solusi Energi

Pada El Niño tahun 2015, sekitar 80% waduk mengalami defisit curah hujan yang membuat volume air untuk pembangkitan PLTA menyusut.

Sedangkan pada El Niño tahun 2023, dampaknya menjalar ke PLTA skala besar seperti PLTA Poso, yang menyebabkan daya pasok sempat terjun dari sekitar 500 Megawatt (MW) menjadi hanya sekitar 160 MW. Akibatnya, pemadaman listrik terjadi di Sulawesi Tengah dan sekitarnya.

"Ketika curah hujan berkurang, maka penggunaan air waduk atau danau akan semakin sulit dibagi untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian atau pembangkitan listrik bersamaan. Sistem yang terkekspos risiko ini yang punya kapasitas PLTA signifikan terhadap kebutuhan daya sistem tersebut," kata Deon saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (9/7/2026).

IESR mengingatkan tekanan terhadap sistem kelistrikan dapat terjadi secara bersamaan. Oleh sebab itu,  Pemerintah dan PLN perlu mulai memetakan skenario ketika berbagai gangguan dapat terjadi bersamaan, yakni: penurunan pasokan dari PLTA, penurunan efisiensi pembangkit fosil, dan kenaikan permintaan listrik.

“Skenario seperti ini perlu diuji dalam perencanaan sistem kelistrikan nasional. Kita tidak bisa lagi merancang sistem hanya berdasarkan kondisi normal. Perencanaan ketenagalistrikan harus memasukkan risiko iklim, cuaca ekstrem, dan kebutuhan fleksibilitas jaringan," ungkap Deon.

Energy Finance Specialist Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Indonesia, Randi Bachtiar punya catatan serupa. Dampak El Niño terhadap PLTA dan PLTMH akan berbeda di setiap wilayah karena bergantung pada kondisi hidrologi dan kapasitas waduk masing-masing.

Namun, pengalaman pada musim kemarau sebelumnya menunjukkan penurunan produksi listrik tenaga air dapat terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan listrik akibat cuaca yang lebih panas. Dengan begitu, pengelolaan sistem kelistrikan bakal menjadi lebih menantang.

Baca Juga: Penjualan Mobil yang Naik Belum Bisa Menjadi Bukti Daya Beli Pulih

"Dengan BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau pada Juli–September, kesiapan operasional PLN, khususnya melalui pusat pengatur beban, menjadi kunci untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan listrik secara real time," kata Randi. 

Fenomena El Nino turut menjadi perhatian bagi PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). Head of Investor Relations ARKO Nicko Yosafat menyatakan risiko iklim telah menjadi pertimbangan sejak awal pengembangan proyek atau desain pembangkit.

ARKO pun telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak dari risiko iklim terhadap keberlangsungan operasional dan usaha.

Pertama, dari sisi pemilihan dan desain lokasi, ARKO memilih lokasi pembangkit dengan mempertimbangkan kondisi hidrologi historis termasuk skenario El Nino. "Hulu sungai yang berhutan lebat membantu menjaga ketersediaan air bahkan di musim kemarau," kata Nicko.

Kedua, pembangkit ARKO tersebar di Jawa Barat, Lampung, dan dua lokasi di Sulawesi Tengah. Dengan begitu, dampak El Niño tidak terkonsentrasi pada satu wilayah saja, sehingga penurunan produksi di satu lokasi dapat sebagian tertutupi oleh lokasi lain yang kondisi hidrologisnya relatif lebih baik.

Ketiga, ARKO memanfaatkan momentum di musim kemarau untuk mengintensifkan program preventive maintenance pada seluruh unit pembangkit.

Mencakup peningkatan right-of-way (ROW) jaringan transmisi, normalisasi drainase, serta pemeliharaan pembangkit per unit. "Dengan kondisi pembangkit yang prima saat memasuki kemarau, kami dapat memaksimalkan produksi dari debit air yang tersedia," imbuh Nicko.

Baca Juga: Honda Ungkap Peluang Pasar Otomotif Masih Terbuka pada Semester II 2026

Keempat, dari sisi konstruksi dan pengembangan, ARKO memanfaatkan periode kemarau untuk mengakselerasi pekerjaan konstruksi pada proyek-proyek yang sedang dalam tahap pembangunan. Sebab, kondisi cuaca kering bisa mendukung kelancaran aktivitas konstruksi di lapangan.

"Jadi, secara keseluruhan, kami memandang El Nino sebagai bagian dari siklus bisnis yang tetap dapat dimanfaatkan sebagai momentum akselerasi pembangunan proyek dan maintenance pembangkit yang telah beroperasi," tegas Nicko.

Diversifikasi Pembangkit & Modernisasi Jaringan

Direktur Eksekutif Sustain, Tata Mustasya menyoroti rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan integrasi pengelolaan waduk dengan memasukkan faktor perubahan iklim menjadi kunci bagi keberlangsungan IPP.

Sedangkan untuk pemerintah dan PLN, Tata mendesak agar ada langkah konkret dan strategis untuk mendiversifikasi fungsi PLTA dengan pembangkit berbasis energi terbarukan lain. 

Salah satu yang potensial untuk segera dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) beserta fasilitas penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS).

"PLTA dan PLTS ini bisa saling mendiversifikasi energi terbarukan di Indonesia, sekaligus semakin mengurangi ketergantungan terhadap PLTU batu bara," kata Tata.

Randi punya catatan serupa, dengan mendorong penguatan ketahanan sistem melalui pengembangan dan modernisasi jaringan kelistrikan yang lebih andal serta bauran pembangkit yang saling melengkapi.

"Musim kemarau umumnya memberikan kondisi yang lebih baik bagi PLTS, termasuk PLTS Atap yang dapat membantu menekan beban puncak pada siang hari ketika produksi PLTA menurun," ungkap Randi.

Baca Juga: Peran Satelit Meluas, dari Mendukung Konektivitas hingga Aktivitas Industri

Sementara itu, IESR menyodorkan tiga langkah untuk membangun jaringan listrik yang lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem, peningkatan permintaan listrik, dan integrasi energi terbarukan. Pertama, modernisasi dan pembaruan aturan jaringan (grid & distribution code).

Pembaruan pada aturan jaringan perlu dilakukan secara berkala agar sistem kelistrikan lebih fleksibel dalam mengakomodir operasi pembangkit.

Kedua, menyusun strategi nasional pengembangan jaringan listrik dengan standar ketahanan iklim yang lebih advanced.

"Pemerintah perlu menyusun strategi pengembangan jaringan listrik jangka panjang dengan menetapkan indikator keandalan yang ketat disertai dengan proyeksi risiko krisis iklim untuk memberikan jaminan terhadap kepastian investasi dan keberlanjutan aset infrastruktur," ungkap Deon.

Ketiga, IESR mendorong integrasi sumber energi tersebar atau Distributed Energy Resources (DER) melalui percepatan adopsi teknologi pintar. Termasuk pemanfaatan energi lokal seperti PLTS Atap dan baterai yang terhubung ke jaringan distribusi secara optimal di seluruh sistem kelistrikan melalui digitalisasi jaringan (smart grid).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News