Pemerintah Raup Rp 22,62 Triliun dari Penjualan Sukuk Tabungan ST016



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 22,617 triliun dari penjualan Sukuk Tabungan seri ST016. Dana tersebut akan digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN Tahun Anggaran 2026.

"Pemerintah telah melaksanakan Penetapan Hasil Penjualan Sukuk Tabungan ST016 sebesar Rp 22.617.773.000.000," dikutip Minggu (14/6/2026).

Nilai tersebut terdiri dari seri ST016T2 dengan tenor dua tahun sebesar Rp 15.302.040.000.000 dan seri ST016T4 dengan tenor empat tahun sebesar Rp 7.315.733.000.000. Adapun ST016T4 merupakan seri Green Sukuk Ritel.


Baca Juga: Kemnaker Buka Pendaftaran Program Pemagangan Jepang dan Pelatihan Kaigo

Sukuk Tabungan ST016 ditawarkan kepada masyarakat pada 8 Mei hingga 3 Juni 2026 menggunakan akad Wakalah dengan underlying asset berupa Barang Milik Negara (BMN) dan proyek APBN Tahun 2026, termasuk proyek-proyek ramah lingkungan. Seluruh hasil penerbitan digunakan untuk mendukung pembiayaan APBN 2026.

Sebagai instrumen investasi syariah ritel, ST016 menawarkan tingkat imbal hasil yang kompetitif, yakni sebesar 6,05% per tahun untuk seri ST016T2 dan 6,25% per tahun untuk seri ST016T4. Kedua seri tersebut menggunakan skema imbalan mengambang dengan batas bawah (floating with floor), sehingga investor tetap memperoleh tingkat imbal hasil minimum meskipun suku bunga acuan mengalami penurunan.

Pemerintah menyebut keberhasilan penjualan ST016 juga didukung oleh berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, baik secara daring maupun luring, serta optimalisasi media sosial untuk meningkatkan literasi investasi di pasar keuangan, khususnya Sukuk Tabungan.

Dari sisi capaian penjualan, ST016 menjadi Sukuk Tabungan keenam yang diterbitkan dalam dua seri atau dual tranches. Instrumen ini berhasil menarik sebanyak 81.667 investor.

Jumlah investor baru ST016 terhadap keseluruhan instrumen SBN Ritel tercatat mencapai 15.847 investor. Sementara itu, jika dibandingkan dengan basis investor SBSN Ritel, jumlah investor baru mencapai 20.081 investor.

Dari sisi demografi, investor ST016 didominasi oleh Generasi Y atau Milenial yang mencapai 52,15% dari total investor. Namun, berdasarkan nilai pemesanan, Generasi X menjadi kelompok dengan kontribusi terbesar, yakni mencapai 42,39%.

Berdasarkan profesi, jumlah investor terbanyak berasal dari kalangan pegawai swasta dengan porsi 34,93%. Sementara dari sisi volume pemesanan, kelompok wiraswasta menjadi kontributor terbesar dengan pangsa 30,45%.

Secara geografis, ST016 berhasil menjangkau investor di seluruh wilayah Indonesia. Investor dari Indonesia Bagian Barat di luar DKI Jakarta mendominasi dengan jumlah 51.970 investor atau sekitar 63,64% dari total investor. Kelompok ini juga menjadi penyumbang volume pemesanan terbesar dengan porsi mencapai 52,56%.

Sementara itu, berdasarkan gender, jumlah investor maupun volume pemesanan sama-sama didominasi oleh perempuan. Investor perempuan mencapai 58,74% dari total investor dengan kontribusi volume pemesanan sebesar 51,96%.

Selama masa penawaran ST016, terdapat seri SBSN ST012T2 yang jatuh tempo pada 10 Mei 2026 dengan nilai sebesar Rp 14,42 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 7,23 triliun atau 50,11% direinvestasikan kembali ke Sukuk Tabungan ST016.

Pemerintah menilai penerbitan ST016 merupakan bagian dari strategi pembiayaan melalui instrumen SBN ritel sekaligus upaya memperdalam pasar keuangan domestik, memperluas basis investor ritel, serta mendorong transformasi masyarakat dari saving oriented society menjadi investment oriented society.

"Penerbitan seri ST016T4 yang merupakan Green Sukuk Ritel juga mewujudkan komitmen pemerintah untuk berkontribusi dalam penurunan dampak perubahan iklim melalui pembiayaan proyek hijau pada APBN 2026," tulis Kemenkeu.

Baca Juga: Anomali Indonesia: Ekonomi Tumbuh Tinggi, Jumlah Kelas Menengah Berkurang, Ada Apa?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News