JAKARTA. Pemerintah memastikan akan menarik pinjaman siaga alias standby loan sebesar US$ 4,4 miliar atau sekitar Rp 44,5 triliun. Langkah ini dilakukan untuk menutup defisit anggaran yang membengkak menjadi Rp 139,5 triliun atau 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, pemerintah akan gunakan standby loan bila obligasi tidak marketable. "Standby loan akan kita pakai untuk tutupi kebutuhan US$ 4,4 miliar atau sekitar Rp 44,5 triliun. Ini akan kita pakai seandainya obligasi tidak capai target," ujar Paskah di gedung DPR, Selasa malam (24/2). Selain itu, sambungnya, pemerintah juga akan menarik dana sebesar Rp 1,1 triliun dari tambahan pinjaman program untuk membiayai pembengkakan defisit lantaran anggaran untuk stimulus, khususnya, stimulus infrastruktur yang kini menjadi Rp 12,2 triliun.
Pemerintah Segera Cairkan Standby Loan US$ 4,4 Miliar
JAKARTA. Pemerintah memastikan akan menarik pinjaman siaga alias standby loan sebesar US$ 4,4 miliar atau sekitar Rp 44,5 triliun. Langkah ini dilakukan untuk menutup defisit anggaran yang membengkak menjadi Rp 139,5 triliun atau 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, pemerintah akan gunakan standby loan bila obligasi tidak marketable. "Standby loan akan kita pakai untuk tutupi kebutuhan US$ 4,4 miliar atau sekitar Rp 44,5 triliun. Ini akan kita pakai seandainya obligasi tidak capai target," ujar Paskah di gedung DPR, Selasa malam (24/2). Selain itu, sambungnya, pemerintah juga akan menarik dana sebesar Rp 1,1 triliun dari tambahan pinjaman program untuk membiayai pembengkakan defisit lantaran anggaran untuk stimulus, khususnya, stimulus infrastruktur yang kini menjadi Rp 12,2 triliun.