Pemerintah Siapkan Efisiensi Energi Hingga B50 Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menggelar rapat dengan sejumlah menteri terkait, seperti Menteri Keuangan, Sekertaris Kabinet, Menteri Dalam Negeri dan lainnya, untuk membahas sejumlah kebijakan ekonomi di tengah dinamika konflik di Timur Tengah.

“Mengikuti Rapat Koordinasi tindak lanjut arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto terkait sejumlah kebijakan ekonomi,” tutur Airlangga dalam postingan respi akun instagramnya @airlanggahartarto_official, Sabtu (28/3/2026).

Airlangga menyebut, dalam rapat ini dibahas berbagai langkah strategis, mulai dari pengaturan Work From Home (WFH) secara adaptif, efisiensi anggaran yang lebih tepat sasaran, penguatan kebijakan B50, hingga usulan penghematan energi nasional.


Baca Juga: Resmi Dilarang oleh PP Tunas!, Akun Anak-Anak Masih Bisa Login Ke Game Roblox

Ia membeberkan, seluruh kebijakan tersebut telah dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan perkembangan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian global yang berdampak pada stabilitas energi, rantai pasok, serta perekonomian nasional.

Lebih lanjut, Airlangga menambahkan, pemerintah juga berkomitmen memastikan setiap kebijakan berjalan secara terukur dan responsif, guna menjaga stabilitas, memperkuat ketahanan nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Untuk diketahui, skema WFH akan dilakukan atau pengurangan hari kerja untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) ditengah konflik di Timur Tengah, karena kawasan tersebut merupakan jalur utama pasokan minyak dunia. Indonesia perlu menghemat BBM karena situasi ini mengancam pasokan dan ekonomi nasional.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, pemerintah akan menempuh langkah efisiensi energi untuk menjaga stabilitas keuangan negara sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi domestik.

Salah satu opsi yang disiapkan adalah mempercepat implementasi biodiesel dari B40 menjadi B50. Selain itu, pemerintah juga akan mempercepat penerapan campuran bioetanol pada bensin melalui program E20.

“Karena kalau harga minyak fosil bisa melampaui US$100 per barel, maka akan lebih murah jika kita melakukan blending,” kata Bahlil.

Menurutnya, peningkatan bauran biofuel tidak hanya menekan ketergantungan pada minyak impor, tetapi juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan karena emisinya lebih rendah.

Baca Juga: Pertemuan Prabowo dan PM Malaysia Sepakat Perkuat Kerjasama Energi di Tengah Krisis

Di tengah lonjakan harga minyak global tersebut, Bahlil memastikan harga BBM bersubsidi di dalam negeri tidak akan mengalami kenaikan hingga periode Lebaran tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: