KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 54 Tahun 2025 yang mengatur penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 6,68 triliun kepada PT Sarana Multigriya Finansial (Persero). Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo mengatakan PMN dialokasikan untuk mendukung penyediaan dana pendamping porsi 25% Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Dengan adanya PMN tersebut, Ananta menyebut dampaknya terhadap SMF adalah perusahaan mampu menjaga kesinambungan penyaluran KPR FLPP sepanjang tahun berjalan, serta memenuhi target penyaluran yang telah ditetapkan. "Dari target sebesar Rp 7,78 triliun, SMF dapat menyalurkan sebesar Rp 8,03 triliun. Untuk target 2026, saat ini PT SMF masih menunggu informasi formal dari kementerian terkait," ucapnya kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).
Baca Juga: Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha PT Duta Inti Varia Insurance Broker Secara rinci, Ananta menerangkan dana PMN yang diterima sebesar Rp 6,68 triliun untuk 2025 telah disalurkan dengan leveraging. Dengan demikian, penyaluran KPR FLPP dapat lebih besar dari pencairan PMN kepada PT SMF. Adapun seluruhnya digunakan untuk menyalurkan Program FLPP melalui lembaga keuangan baik bank umum maupun syariah. Pada 2025, Ananta mengatakan realisasi penyaluran pinjaman mencapai Rp 20,88 triliun. Nilainya meningkat sekitar 22,1%, jika dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 17,10 triliun. "Capaian tersebut juga melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 sebesar Rp 20,62 triliun, atau terealisasi sekitar 101,2% dari RKAP," tuturnya. Ananta menyebut pencapaian itu mencerminkan kinerja penyaluran yang solid, serta menunjukkan efektivitas pelaksanaan strategi pembiayaan dan pendanaan perusahaan sepanjang 2025 baik pembiayaan komersial maupun program FLPP.
Baca Juga: OJK Proyeksi Piutang Pembiayaan Multifinance Tumbuh 6%-8%, Ini Kata Clipan Finance Dari sisi kinerja keuangan, Ananta menyampaikan SMF memiliki total aset mencapai Rp 66,80 triliun pada 2025, atau meningkat sekitar 14,9% secara Year on Year (YoY). Dia bilang nilai itu melampaui target RKAP 2025 yang sebesar Rp 59,03 triliun, dengan tingkat realisasi 113,17%. Sejalan dengan ekspansi aset tersebut, Ananta menerangkan laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 561 miliar, atau tumbuh sekitar 3,9% YoY. Dia menyebut perolehan itu juga melampaui target RKAP 2025 yang sebesar Rp 512 miliar, dengan realisasi 109,54%. "Perolehan itu mencerminkan kemampuan SMF dalam menjaga kinerja profitabilitas di tengah peningkatan skala usaha dan pelaksanaan mandat penugasan pemerintah," kata Ananta. Sementara itu, Ananta membeberkan sejumlah tantangan yang bisa mempengaruhi kinerja pembiayaan SMF pada tahun ini. Dia menerangkan tantangan terbesar yang mempengaruhi kinerja SMF adalah kondisi makro ekonomi dan kondisi perbankan di Indonesia. Ananta berpendapat kondisi perbankan di Indonesia terlihat masih memiliki likuiditas yang tinggi, ditandai dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di posisi 11,46% YoY pada Oktober 2025, kemudian naik menjadi 12,01% YoY pada November 2025. Pada periode yang sama, pertumbuhan kredit cenderung bergerak stagnan di angka 7,36% pada Oktober 2025, kemudian 7,74% pada November 2025.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Akan Tambah Porsi Investasi di Saham Selain itu, dia menerangkan potensi tantangan lainnya, yakni terkait kondisi ketidakpastian global yang saat ini mempengaruhi kondisi makro ekonomi. Dia mengatakan tekanan secara tidak langsung akan mempengaruhi likuiditas dan penyaluran kredit perbankan. Harapannya, aset yang dimiliki perbankan dapat di-
recycling melalui sekuritisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News