KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerbitkan sukuk global senilai US$ 3 miliar di pasar keuangan internasional. Penerbitan surat utang syariah ini mendapat respons positif dari investor global, dengan total permintaan mencapai 2,9 kali lipat dari target penerbitan. Dalam pengumuman DJPPR Kemenkeu, Jumat (6/11/2026) sukuk global yang diterbitkan terdiri tiga seri yakni SNI1129, SNI1131, dan SNI1136.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih Digugat ke MK, Pemohon Soroti Beban Dana Desa Adapun
masing-masing seri mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscription) yang cukup tinggi. Seri SNI1129 dengan tenor tiga tahun mencatatkan oversubscription sebesar 3 kali, seri SNI1131 dengan tenor lima tahun sebesar 2,9 kali, dan seri SNI1136 dengan tenor 10 tahun sebesar 2,2 kali. Dari total penerbitan US$ 3 miliar tersebut, pemerintah mengalokasikan US$ 500 juta untuk tenor tiga tahun, US$ 1 miliar untuk tenor lima tahun, dan US$ 1,5 miliar untuk tenor 10 tahun.
Adapun kupon dan imbal hasil yang ditawarkan masing-masing sebesar 5,4% untuk seri SNI1129, 5,85% untuk seri SNI1131, serta 6,25% untuk seri SNI1136. Ketiga seri sukuk tersebut masing-masing akan jatuh tempo pada 13 November 2029, 13 November 2031, dan 13 November 2036. Penetapan harga (pricing) transaksi dilakukan pada 6 November 2026, sedangkan penyelesaian transaksi dijadwalkan pada 13 November 2026. Dirjen DJPPR Kemenkeu Suminto
mengatakan, bahwa transaksi ini memanfaatkan kondisi pasar yang konstruktif serta sentimen positif menyusul hasil pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat. Transaksi ini mendapatkan respon dan minat yang kuat dari
investor sejak awal masa penawaran sehingga berhasil mendorong momentum orderbook yang solid dan dapat dilakukan kompresi dan Initial Price Guidance (IPG) atau indikasi imbal hasil awal. Baca Juga: Aturan Skema Ekspor SDA Diubah! DSI Jadi Perantara Tunggal, Berlaku Mulai 2027 Pemerintah menilai keberhasilan penerbitan sukuk global tersebut kembali menegaskan kuatnya posisi Indonesia di pasar keuangan internasional, meskipun masih dihadapkan pada dinamika dan ketidakpastian global. "Tingginya minat investor dari berbagai kawasan juga mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Kepercayaan tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang solid, pengelolaan fiskal yang prudent, serta kebijakan moneter yang kredibel," tulis Dirjen DJPPR Kemenkeu Suminto dalam keterangan resminya, Jumat (6/11/2026). Transaksi ini sekaligus menandai keenam kalinya pemerintah mengakses pasar keuangan internasional sepanjang 2026. Sebelumnya, pemerintah telah lima kali menerbitkan surat utang dalam berbagai mata uang, yakni dolar Amerika Serikat (AS), euro, renminbi offshore (CNH), yen Jepang, dan renminbi (CNY) dalam format konvensional. Dalam transaksi sukuk global ini, BofA Securities, Dubai Islamic Bank, HSBC, J.P. Morgan (B&D), dan KFH Capital Investment Company K.S.C.C. bertindak sebagai Joint Lead Managers dan Joint Bookrunners. Sementara itu, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT BNI Sekuritas, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. bertindak sebagai Co-Managers. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News