Pemerintah Tetapkan Fuel Surcharge 38%, Kenaikan Harga Avtur Masih Bebani Maskapai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri penerbangan nasional masih dibayangi tekanan biaya operasional yang tinggi akibat kenaikan harga avtur.

Meski pemerintah telah memberikan relaksasi, beban biaya yang besar memaksa maskapai melakukan penyesuaian operasional guna menjaga keberlangsungan usaha.

Plt. Direktur Utama Indonesia AirAsia, Capt. Achmad Sadikin menyampaikan apresiasi atas langkah responsif pemerintah dalam menjaga keseimbangan industri.


Baca Juga: Harga Avtur Melonjak 72,45%, INACA Minta Pemerintah Segera Naikkan Fuel Surcharge

Beberapa kebijakan seperti penyesuaian biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) hingga fasilitas pembebasan bea masuk suku cadang dinilai cukup membantu.

"Kebijakan penyesuaian fuel surcharge, dan pemberian fasilitas pembebasan bea masuk untuk suku cadang pesawat merupakan langkah strategis yang memberikan ruang bagi maskapai untuk mempertahankan keberlangsungan operasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (6/4/2026).

Selain itu, kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11% untuk tiket kelas ekonomi domestik juga berperan menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Namun, Sadikin menyebut kenaikan fuel surcharge hingga 38% belum cukup untuk menutup seluruh tekanan biaya yang ada.

Baca Juga: Harga Avtur Naik, Pemerintah Jaga Kenaikan Tiket Pesawat Maksimal Hingga 13%

"Sejalan dengan dukungan tersebut, industri penerbangan masih menghadapi tekanan biaya yang signifikan, terutama akibat kenaikan harga avtur dan komponen operasional lainnya. Meskipun penyesuaian fuel surcharge hingga sekitar 38% telah diperhitungkan sebagai bagian dari langkah mitigasi, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan biaya yang ada," jelasnya.

Kondisi ini membuat Indonesia AirAsia harus melakukan rasionalisasi kapasitas dan penyesuaian operasional secara bertahap, terutama pada rute-rute dengan margin terbatas.

Dampaknya, terjadi penyesuaian jadwal pada beberapa rute domestik maupun internasional dalam beberapa hari terakhir.

Terkait ketidaknyamanan tersebut, manajemen memastikan telah menyiapkan Service Recovery Options (SRO).

Opsi ini mencakup perubahan jadwal tanpa biaya (free reschedule) dalam 30 hari, pemberian credit account, hingga pengembalian dana secara penuh (full refund).

Baca Juga: Harga Avtur Meroket, Bahlil Sebut Harga Indonesia Lebih Kompetitif dari Tetangga

"Kami memahami ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang dan menyampaikan permohonan maaf atas situasi ini. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan setiap penumpang tetap mendapatkan opsi penanganan yang sesuai," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News