Pemerintah Waspadai Ancaman El Niño terhadap Harga dan Inflasi Pangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tengah mewaspadai potensi dampak fenomena El Niño, terhadap ketersediaan dan harga pangan terutama cabai dan daging ayam.

Gangguan cuaca yang memengaruhi produksi maupun distribusi pangan berisiko menekan pasokan di sejumlah daerah dan memicu kenaikan harga, sehingga perlunya antisipasi untuk menjaga inflasi pangan.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, harga sejumlah komoditas cabai mengalami kenaikan pada pekan pertama Oktober 2026 dibandingkan pekan terakhir September 2026.


Harga cabai rawit merah naik 5,28% dari sekitar Rp 88.873 menjadi Rp 93.566 per kilogram (kg). Harga cabai merah keriting meningkat 17,43% dari sekitar Rp 66.487 menjadi Rp 78.076 per kg, sedangkan cabai merah besar naik 11,75% dari sekitar Rp 53.699 menjadi Rp 60.009 per kg.

Baca Juga: Kekeringan Ancam Ketahanan Pangan, Pemerintah Didesak Percepat Penanganan Irigasi Harga daging ayam ras turun 1% dari sekitar Rp 41.066 menjadi Rp 40.655 per kilogram (kg) pada periode yang sama.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Brigjen Pol Hermawan mengatakan, pemerintah terus mencermati potensi dampak El Niño terhadap produksi dan distribusi pangan.

Perubahan pola curah hujan dan ketersediaan air dapat memengaruhi produktivitas tanaman serta waktu panen.

Adapun pada komoditas daging ayam, dampak cuaca dapat terjadi secara tidak langsung melalui ketersediaan bahan pakan dan biaya produksi.

Meski begitu, kenaikan harga pangan tidak serta-merta disebabkan oleh perubahan iklim. Faktor musim panen, permintaan, biaya distribusi, dan kondisi pasar juga memengaruhi pergerakan harga.

“Pergerakan harga pangan tidak semata-mata disebabkan oleh faktor iklim. Pergerakan harga juga dipengaruhi musim panen, permintaan, biaya distribusi, serta kondisi pasar,” ujar Hermawan kepada KONTAN, Senin (12/10/2026).

Baca Juga: BPS: Penerima Bantuan Pangan 2026 Turun ke Level Terendah Lima Tahun

Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional yang diperbarui pada 3 Oktober 2026, ketersediaan cabai rawit dan daging ayam secara nasional diperkirakan masih mencukupi kebutuhan hingga akhir 2026.

Bapanas memproyeksikan surplus cabai rawit sebesar 62.643 ton dan daging ayam sebesar 479.737 ton.

Namun, proyeksi tersebut merupakan gambaran ketersediaan secara agregat nasional yang dapat berubah mengikuti perkembangan produksi, kebutuhan, dan distribusi.

Karena itu, kecukupan pasokan nasional tetap perlu diimbangi dengan kelancaran distribusi agar pangan tersedia di daerah yang mengalami tekanan harga.

Untuk mengantisipasi gejolak harga, Bapanas mengoptimalkan sejumlah instrumen stabilisasi, antara lain Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), Kerja Sama Antar Daerah (KAD), dan Gerakan Pangan Murah (GPM).

Pemerintah juga turut memperkuat pemantauan harga dan pasokan serta berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta pemerintah daerah untuk mengidentifikasi wilayah yang berisiko mengalami gangguan produksi maupun tekanan harga. 

Baca Juga: DEN Ingatkan Pemerintah Akan Ancaman El Nino dan La Nina ke Sektor Pangan

Untuk komoditas daging ayam, pemerintah juga mengoptimalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung guna menjaga keterjangkauan harga jagung sebagai bahan pakan bagi peternak.

Upaya ini menjadi salah satu langkah untuk membantu mengendalikan biaya produksi di tengah potensi gangguan pasokan dan perubahan kondisi cuaca. 

Hermawan mengatakan, penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah, termasuk potensi hambatan distribusi akibat jarak angkut, biaya transportasi, cuaca, dan infrastruktur.

“Langkah antisipasi dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah agar penanganannya lebih cepat, terukur, dan tepat sasaran,” kata Hermawan. 

Bapanas turut mencermati pergerakan harga cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam karena ketiga komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang inflasi dari kelompok pangan bergejolak (volatile food).

Meski demikian, Bapanas belum menghitung secara kuantitatif potensi dampak El Niño terhadap inflasi nasional.

Baca Juga: OECD Ingatkan Risiko El Nino Ekstrem di Akhir Tahun Ancam Produksi Pangan & Inflasi

Besarnya dampak akan bergantung pada tingkat gangguan produksi dan distribusi, luas wilayah terdampak, perkembangan permintaan, serta efektivitas upaya stabilisasi pemerintah.

“Jika gangguan produksi dan distribusi berlangsung lebih lama, tekanan harga berpotensi meningkat pada komoditas dan wilayah tertentu,” ujar Hermawan.

Guna mengantisipasi risiko tersebut, Bapanas akan terus memantau perkembangan harga dan pasokan pangan serta memperkuat koordinasi lintas sektor. Pemerintah juga mengimbau masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan agar tidak memicu pembelian berlebihan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News