Pemicu Rata-Rata Yield Kredit Industri Perbankan Turun hingga Mei 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berdasarkan data Survei Perbankan Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata yield kredit industri perbankan turun 0,49% secara tahunan (YoY) menjadi 8,11% per Mei 2026. 

Tren tersebut juga tercermin pada kinerja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Dalam paparan publik kuartal II 2026, yield kredit bank only Bank Mandiri turun menjadi 6,91% dari 7,11% pada kuartal sebelumnya.

Sementara berdasarkan segmennya, yield kredit korporasi, termasuk institutional and banking sebesar 5,94% pada semester I 2026 atau yang terendah dibandingkan segmen lainnya.


Sebaliknya, segmen mikro dan payroll masih mencatat yield tertinggi sebesar 10,6%, disusul kredit konsumer sebesar 7,55%.

Baca Juga: Yield Kredit Wholesale Diperkirakan Mulai Terbatas, BCA Genjot Kredit Produktif

Direktur Commercial Banking, Bank Mandiri, Totok Priyambodo mengatakan, perseroan terus mengarahkan pembiayaan ke sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional, seperti perkebunan, hilirisasi, transportasi dan logistik, energi, serta sektor produktif lainnya. 

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, penurunan yield kredit tidak serta-merta menunjukkan seluruh bank menurunkan suku bunga pinjaman.

Menurutnya, kondisi tersebut lebih mencerminkan perubahan komposisi portofolio kredit dan penyusutan margin dibandingkan penurunan suku bunga secara menyeluruh.

"Turunnya imbal hasil lebih banyak menunjukkan perubahan komposisi kredit dan penyusutan margin, bukan penurunan suku bunga secara merata," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (30/7/2026). 

Josua menilai pergeseran penyaluran kredit ke segmen investasi dan korporasi menjadi faktor utama penurunan yield karena kedua segmen tersebut umumnya menawarkan imbal hasil lebih rendah.

Baca Juga: Mencermati Penyebab Yield Kredit Perbankan Menurun

Hal itu dipengaruhi oleh nilai pinjaman yang besar, risiko yang relatif terukur, serta posisi tawar debitur korporasi yang lebih kuat dibandingkan segmen lainnya.

Selain itu, Josua mengatakan persaingan memperebutkan debitur korporasi berkualitas juga mendorong bank menawarkan suku bunga kredit yang lebih kompetitif. Alhasil, meski penyaluran kredit terus tumbuh, rata-rata yield portofolio perbankan cenderung menurun.

Ke depan, Josua memperkirakan yield kredit industri masih berpotensi turun secara terbatas pada kuartal III 2026 sebelum cenderung mendatar pada kuartal IV.

Dalam skenario dasarnya, rata-rata yield kredit industri diperkirakan berada pada kisaran 7,95% hingga 8,15% pada akhir 2026. 

Sementara itu, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menjelaskan, perkembangan yield kredit industri dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi pasar, permintaan dan penawaran kredit, kecukupan likuiditas, hingga tren suku bunga acuan.

"Yield kredit di industri perbankan dipengaruhi berbagai faktor, seperti situasi pasar, permintaan dan penawaran kredit, kecukupan likuiditas, serta tren suku bunga acuan," kata Hera kepada Kontan, Kamis (30/7).

Baca Juga: Keuntungan Bank dari Penyaluran Kredit Semakin Menipis

Meski demikian, Hera memastikan kondisi neraca dan likuiditas BCA tetap solid. Hingga semester I 2026, penyaluran kredit BCA ke sektor produktif mencapai Rp 802 triliun atau tumbuh 11% secara tahunan.

Dengan fundamental bisnis dan likuiditas yang tetap solid, BCA akan terus mengoptimalkan penyaluran kredit secara prudent sesuai kebutuhan nasabah dan perkembangan kondisi pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News