KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Realisasi pembayaran klaim di sejumlah perusahaan asuransi umum menunjukkan dinamika beragam pada kuartal I-2026, seiring perbedaan profil risiko dan eksposur masing-masing perusahaan. Asuransi umum pelat merah PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) misalnya, mencatat kenaikan klaim seiring meningkatnya frekuensi klaim di sejumlah lini bisnis. Sekretaris Perusahaan Jasindo Brellian Gema Widayana menyebut, klaim bruto perusahaan mencapai Rp 407,14 miliar pada kuartal I-2026, naik 21,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 335,43 miliar.
“Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya frekuensi klaim pada sejumlah lini bisnis, khususnya pada lini
property, engineering, dan
energy offshore,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (1/5/2026).
Baca Juga: Klaim Mendaki, Asuransi Umum Perkuat Mitigasi Ia menambahkan, lonjakan klaim tersebut turut dipengaruhi oleh meningkatnya kompleksitas risiko pada proyek-proyek
engineering serta aktivitas di sektor
energy offshore. Sejalan dengan itu, Jasindo memperkuat kualitas
underwriting dan manajemen risiko secara terintegrasi, antara lain melalui penerapan
prudent underwriting, penyesuaian
risk appetite, serta peningkatan pemanfaatan data
analytics untuk mendukung proses
risk assessment. Di sisi lain, PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) justru mencatat penurunan klaim pada periode yang sama. Corporate Secretary Asuransi Digital Bersama Rahmat Dwiyanto mengatakan, klaim bruto perusahaan tercatat sekitar Rp 21,8 miliar pada kuartal I-2026, atau setara 13,5% terhadap premi. “Angka tersebut membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 27,8 miliar atau 18,1% terhadap premi,” ujarnya kepada Kontan, Senin (4/5). Perbaikan rasio klaim tersebut turut berdampak positif terhadap profitabilitas perusahaan. Rahmat menyebut, kinerja ini didorong oleh konsistensi dalam melakukan evaluasi produk secara berkala serta strategi diversifikasi portofolio ke lini bisnis dengan profil risiko yang lebih terkelola.
Baca Juga: AAUI Ungkap Penyebab Premi Asuransi Umum Hanya Tumbuh 2,7% di 2025 Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan teknologi untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi klaim sehingga dapat lebih cepat mengidentifikasi potensi kenaikan risiko dan melakukan mitigasi secara tepat waktu. Sementara itu, PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) mencatat kenaikan klaim pada kuartal I-2026 yang dipicu oleh bencana banjir di sejumlah wilayah. Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi mengatakan, kenaikan klaim tersebut diperkirakan mencapai 20% hingga 30%. “Klaim perusahaan naik pada kuartal I-2026 karena banjir,” ujarnya kepada Kontan, Senin (4/5). Ia menambahkan, kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk meninjau kembali strategi manajemen risiko, terutama dalam menghadapi potensi perubahan cuaca ke depan. Menurutnya, fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada tahun ini dapat memengaruhi profil risiko, khususnya pada lini properti dan risiko terkait bencana alam.
Baca Juga: OJK Catat Klaim Asuransi Umum Diproyeksi Naik hingga Akhir 2026 Perbedaan tren klaim di sejumlah perusahaan tersebut mencerminkan beragamnya eksposur risiko di industri asuransi umum, mulai dari risiko proyek dan energi, risiko berbasis teknologi dan perilaku nasabah, hingga risiko bencana alam. Sejumlah perusahaan pun melakukan penyesuaian strategi, baik melalui penguatan underwriting, evaluasi portofolio, hingga pemanfaatan teknologi dan penguatan manajemen risiko untuk menjaga kinerja di tengah dinamika klaim. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News