Pemilih Lansia Jadi Penentu dalam Persaingan Ketat Lula dan Flavio Bolsonaro



KONTAN.CO.ID - BRASILIA. Pemilih lanjut usia menjadi salah satu kelompok penting dalam pemilihan presiden Brasil yang mempertemukan petahana Luiz Inacio Lula da Silva dengan kandidat sayap kanan Flavio Bolsonaro.

Kekhawatiran terhadap masa depan layanan kesehatan, pensiun, dan bantuan sosial mendorong sebagian pemilih lansia mendukung Lula menjelang pemungutan suara putaran kedua pada Minggu.

Mengutip Reuters, Kamis (22/10/2026), jumlah pemilih berusia di atas 60 tahun di Brasil meningkat 74% sejak 2010.


Berdasarkan data badan statistik pemerintah Brasil (IBGE), kelompok tersebut kini mencakup hampir 25% dari total pemilih, sehingga memiliki bobot politik yang semakin besar.

Baca Juga: Flavio Bolsonaro Unggul di Hasil Awal, Pemilu Brasil Berpotensi Dua Putaran

Survei lembaga jajak pendapat Quaest menunjukkan Lula unggul di kalangan pemilih lansia dengan tingkat dukungan 48%, sedangkan Flavio Bolsonaro memperoleh 42%.

Meski demikian, persaingan secara keseluruhan masih ketat menjelang pemungutan suara.

Rony Amaral, 71 tahun, menjadi salah satu pemilih yang memilih Lula karena khawatir pemerintahan Flavio Bolsonaro akan memangkas anggaran kesehatan dan pensiun. Kekhawatiran serupa juga dirasakan ibunya, Aisa Amaral, yang berusia 91 tahun.

"Ada ketakutan di kalangan masyarakat berusia di atas 60 tahun bahwa mereka akan kehilangan akses perawatan," kata Amaral.

Kampanye Lula kini berupaya menggalang dukungan dari kelompok yang disebut sebagai generasi Lula, yakni pemilih berusia di atas 70 tahun. Strategi ini dinilai penting untuk memperkuat dukungan di tengah ketatnya persaingan dengan Flavio Bolsonaro.

Baca Juga: Jelang Pilpres Brasil, Flavio Bolsonaro dan Lula Sama Kuat

CEO lembaga survei Ideia, Cila Schulman, mengatakan pemilih lansia selama ini cenderung kurang mendapat perhatian dalam kampanye politik Brasil, meskipun jumlah dan pengaruh mereka terus meningkat.

Dukungan kelompok ini terhadap Lula antara lain berkaitan dengan ingatan atas peningkatan kesejahteraan pada masa pemerintahannya terdahulu.

Kebijakan yang mereka ingat mencakup kenaikan upah minimum, investasi di sektor kesehatan publik, serta berbagai program bantuan sosial. "Ini adalah kenangan yang tidak dimiliki pemilih yang lebih muda," ujar Schulman.

Untuk menjangkau kelompok tersebut, partai Lula meluncurkan situs khusus bagi pemilih lansia sekaligus mendorong mereka menggunakan hak suara.

Salah satunya Ana dos Reis, 76 tahun, warga berpenghasilan rendah di wilayah utara Sao Paulo, yang memutuskan datang ke tempat pemungutan suara setelah sebelumnya tidak terlalu antusias.

Di sisi lain, sebagian pemilih lansia mencemaskan kemungkinan berkurangnya manfaat sosial jika Flavio Bolsonaro menang.

Baca Juga: Flávio Bolsonaro Unggul di Pilpres Brasil, Hadapi Lula di Putaran Kedua

Kekhawatiran itu muncul di tengah tekanan untuk mengurangi utang publik Brasil yang besar, yang berpotensi mendorong pemerintah melakukan penghematan anggaran.

Sebagian lainnya mengkhawatirkan dampak politik dari kemenangan Bolsonaro. Mereka mengingat peristiwa Januari 2023, ketika pendukung mantan Presiden Jair Bolsonaro, ayah Flavio, menyerang gedung-gedung pemerintahan setelah Lula memenangkan pemilihan presiden sebelumnya.

Olga Darc Pimentel, 78 tahun, yang tinggal di dekat Manaus, Brasil utara, mengatakan pengalaman pandemi Covid-19 turut memengaruhi pilihannya.

Ia mengkritik penanganan pandemi pada masa pemerintahan Jair Bolsonaro dan berencana memilih Lula sembari mengajak pemilih lain melakukan hal serupa.

Meski demikian, dukungan terhadap keluarga Bolsonaro tetap ada di kalangan lansia.

Baca Juga: Senat Brasil Setujui Pemangkasan Hari Kerja Jadi Lima Hari Sepekan

Isaltina Rosa Peixoto, 73 tahun, pensiunan pegawai negeri yang menghadiri kampanye Flavio Bolsonaro di Rio de Janeiro, mengatakan dirinya percaya kandidat tersebut akan melanjutkan sekaligus memperbarui warisan politik ayahnya.

Dengan hampir seperempat pemilih Brasil berusia di atas 60 tahun, preferensi kelompok lansia menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan Lula dan Flavio Bolsonaro.

Namun, dukungan kelompok tersebut bukan satu-satunya faktor yang menentukan hasil pemilihan presiden Brasil.