Pemilu Israel Berakhir Ketat, Netanyahu dan Oposisi Sama-Sama Gagal Raih Mayoritas



KONTAN.CO.ID - Pemilihan umum Israel yang digelar di tengah konflik bersenjata berpotensi menghasilkan kebuntuan politik.

Hasil exit poll pada Selasa (27/10/2026) menunjukkan, blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot bersaing ketat dengan kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, tanpa ada pihak yang diproyeksikan meraih mayoritas kursi parlemen.

Mengutip Reuters, sejumlah lembaga penyiaran Israel, termasuk Kan 11 dan Channel 13, memperkirakan kedua blok memperoleh dukungan yang relatif berimbang.


Sementara itu, Channel 12 menunjukkan kubu yang dipimpin Partai Likud pimpinan Netanyahu unggul tipis.

Baca Juga: Raksasa Barang Konsumsi Dunia Bersiap Naikkan Harga

Namun, tidak ada proyeksi yang memberikan salah satu kubu 61 kursi, jumlah minimum untuk menguasai mayoritas di parlemen Israel atau Knesset yang memiliki 120 kursi.

Hasil tersebut menjadi tantangan bagi koalisi Netanyahu dan berpotensi memicu negosiasi pembentukan pemerintahan selama beberapa pekan.

Meski demikian, kebuntuan politik juga membuka kemungkinan Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara selama proses negosiasi berlangsung.

"Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat," kata Netanyahu kepada pendukung Partai Likud di Yerusalem setelah pukul 03.00 waktu setempat.

Ia juga menyoroti keberhasilan militer Israel dan peluang untuk menghilangkan ancaman Iran.

Sebaliknya, Eisenkot menilai hasil pemungutan suara menunjukkan penolakan masyarakat terhadap kepemimpinan Netanyahu.

Baca Juga: Won Korea Selatan dan Peso Filipina Paling Tertekan, Rupiah Melemah ke Rp 18.185

Mantan kepala militer Israel tersebut menyampaikan pernyataan itu di hadapan para pendukungnya di Tel Aviv.

Partai-partai keagamaan sayap kanan ekstrem yang dipimpin Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich diproyeksikan meraih total 13 kursi dalam blok Netanyahu.

Sementara itu, partai-partai Arab yang berada di luar dua blok utama berpotensi memegang peran penting dalam menentukan pembentukan pemerintahan.

Namun, Eisenkot yang memimpin Partai Yashar hampir menutup kemungkinan membentuk pemerintahan bersama partai-partai Arab.

Sikap tersebut dapat mempersempit pilihannya untuk memperoleh dukungan mayoritas di parlemen.

Tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7%, menurut Komite Pemilihan Pusat Israel. Angka itu merupakan yang tertinggi dalam lebih dari dua dekade dan sekitar tujuh poin persentase di atas tingkat partisipasi pada pemilu 2022.

Baca Juga: Peringkat Kawasan dengan Cadangan Minyak Terbesar di Dunia, Timur Tengah Teratas

Hasil resmi pemilu diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari. Sistem politik Israel yang terfragmentasi juga membuat partai-partai kecil berpotensi menjadi penentu dalam negosiasi koalisi. Jika tidak ada blok yang mampu membentuk pemerintahan, pemilu ulang dapat menjadi salah satu kemungkinan.

Yohanan Plesner, Presiden Israel Democracy Institute menyebut, hasil exit poll tersebut sebagai pukulan besar bagi koalisi Netanyahu.

Namun, ia mengingatkan bahwa Eisenkot juga belum muncul sebagai pemenang yang jelas dan hasilnya masih dapat berubah seiring penghitungan suara.

Pemilu Pertama Sejak Serangan Hamas 2023

Pemilu pada Selasa tersebut merupakan pemilihan umum pertama Israel sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera, menurut laporan Reuters. Peristiwa itu diikuti perang di Gaza, Lebanon, serta konflik dengan Iran.

Netanyahu menghadapi kritik atas kegagalan keamanan yang memungkinkan serangan Hamas terjadi. Namun, ia membela rekam jejak pemerintahannya dengan menyatakan bahwa operasi militer Israel terhadap para pemimpin Hamas, Hizbullah, dan Iran telah meningkatkan keamanan Israel.

Baca Juga: Serangan Houthi ke Kilang Minyak Arab Saudi, Harga Brent Tembus US$ 115 per Barel

Kebijakan koalisi sayap kanan Netanyahu memicu perpecahan di dalam negeri dan memperdalam isolasi internasional Israel.

Di sisi lain, Netanyahu tetap memosisikan dirinya sebagai pemimpin yang mampu menghadapi ancaman keamanan negara tersebut.

Eisenkot, 66 tahun, muncul sebagai penantang utama Netanyahu dengan mengandalkan rekam jejaknya di bidang keamanan dan menawarkan pendekatan politik domestik yang lebih moderat.

Ia pernah bergabung dengan kabinet perang Netanyahu setelah serangan Hamas pada 2023, tetapi mengundurkan diri delapan bulan kemudian karena mengkritik kepemimpinan perdana menteri.

Meski menawarkan perubahan kepemimpinan, Eisenkot tetap mengambil sikap keras dalam isu keamanan.

Ia menolak pembentukan negara Palestina dan menyatakan sayap militer Hamas harus dihancurkan atau dibubarkan.

Eisenkot juga menilai respons Israel terhadap serangan Hamas gagal mencapai tujuannya karena Hamas masih berkuasa di Gaza. Otoritas kesehatan Gaza menyebut perang tersebut telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina.

Baca Juga: Vietnam Pertimbangkan Pangkas Pajak BBM Jadi 0%, Tarif Listrik Bisa Turun

Sementara itu, koalisi partai-partai Arab menyambut hasil exit poll dengan optimisme setelah tingkat partisipasi pemilih Arab Palestina di Israel meningkat. Faten Gattas, salah satu kandidat dari aliansi Joint List, menyatakan penolakan terhadap pendudukan dan rasisme dalam pidatonya di Nazareth.

Netanyahu, yang telah menjabat sebagai perdana menteri selama hampir 19 tahun dalam tiga dekade terakhir, sebelumnya berulang kali bertahan dari krisis politik.

Ia juga menghadapi dakwaan korupsi yang dibantahnya serta kritik terkait kegagalan intelijen menjelang serangan Hamas pada Oktober 2023.