KONTAN.CO.ID - Pemungutan suara pemilihan sela atau midterm elections Amerika Serikat (AS) memasuki jam-jam terakhir pada Selasa (3/11/2026). Hasil pemilu kali ini menjadi ujian penting bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik yang berupaya mempertahankan kendali atas Kongres AS. Hasil awal pemilu mulai bermunculan pada Selasa malam waktu setempat. Namun, kepastian mengenai apakah Partai Demokrat mampu merebut kendali Kongres dari Partai Republik diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa jam.
Baca Juga: Trump Sebut Kesepakatan Dagang AS-Kanada Segera Tercapai, Kanada Masih Berhati-hati Hingga pukul 19.30 waktu setempat, media AS telah memproyeksikan pemenang di sejumlah daerah pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setelah tempat pemungutan suara ditutup di 10 negara bagian. Meski demikian, belum ada pemenang dari sekitar 47 daerah pemilihan yang diperkirakan menjadi penentu perebutan mayoritas DPR. Partai Demokrat membutuhkan tambahan tiga kursi untuk menguasai DPR AS. Sementara itu, di Senat, Demokrat membutuhkan tambahan empat kursi untuk merebut mayoritas. Dari 35 kursi Senat yang diperebutkan dalam pemilu kali ini, Demokrat telah memenangkan satu kursi pertama setelah Senator Mark Warner diproyeksikan kembali terpilih di Virginia, sesuai perkiraan sebelumnya. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Demokrat memiliki peluang untuk merebut DPR, sedangkan persaingan di Senat berlangsung ketat di beberapa negara bagian. Jutaan warga AS memberikan suara dalam pemilu yang secara luas dipandang sebagai referendum terhadap dua tahun pertama masa jabatan kedua Trump.
Baca Juga: Hasil Man United vs AS Roma 3-2: Bruno Fernandes dan Cunha Pimpin Comeback Trump bahkan meminta para pendukungnya untuk memperlakukan pemilu tersebut seolah-olah dirinya turut menjadi kandidat. "Anggap saja saya ada dalam surat suara," ujar Trump kepada pendukungnya. Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi di Kongres dalam pemilu sela. Sejak Perang Dunia II, partai presiden yang sedang menjabat hanya dua kali berhasil menghindari kehilangan kekuatan di Kongres. Posisi politik Trump juga menghadapi tekanan setelah tingkat persetujuannya berada di dekat level terendah sepanjang karier politiknya. Sejumlah pemilih menyampaikan ketidakpuasan terhadap perang dengan Iran, kenaikan harga bahan bakar, serta meningkatnya biaya hidup. Hasil jajak pendapat setelah pemungutan suara atau exit poll yang dilakukan SSRS untuk konsorsium media AS, termasuk sejumlah jaringan televisi besar dan Associated Press, menunjukkan sekitar separuh pemilih memandang pemilu sela 2026 sebagai kesempatan untuk menyampaikan penolakan terhadap presiden. Selain itu, sekitar tiga perempat responden mengaku marah atau tidak puas dengan arah perkembangan negara. Sebanyak 70% pemilih juga menginginkan Kongres menjalankan fungsi pengawasan dan penyeimbang yang lebih kuat terhadap presiden.
Baca Juga: Calvin Verdonk Jadi Player of the Match, Tampil Solid saat Lille Tahan Bodo/Glimt Trump dan Partai Republik selama kampanye menggambarkan kandidat Demokrat sebagai kelompok radikal, tidak nasionalis, bahkan komunis. Namun, Partai Demokrat menolak keras label tersebut. Sejak awal Oktober, Trump telah menggelar lebih dari dua lusin kampanye untuk menggalang dukungan. Sebagian besar kegiatan tersebut berlangsung di negara bagian yang dimenangkannya dengan mudah pada pemilihan presiden 2024. Kondisi ini mencerminkan posisi Partai Republik yang tengah berupaya mempertahankan dukungan pemilih. Jajak pendapat menunjukkan persoalan biaya hidup menjadi perhatian utama pemilih. Mereka juga cenderung tidak puas terhadap penanganan isu tersebut oleh Trump. Kebijakan tarif impor yang diterapkan pemerintahannya, sebagian di antaranya dibatalkan pengadilan, serta keputusan menyerang Iran pada Februari turut mendorong kenaikan harga bagi konsumen.
Baca Juga: Trump Setop Bantuan US$ 4 Miliar ke Israel, Penjualan Senjata Tetap Berlanjut Trump Kerahkan Pemantau Pemilu Berdasarkan analisis Reuters terhadap sejumlah lembaga pemantau pemilu, terdapat 47 daerah pemilihan DPR AS yang diperkirakan berlangsung kompetitif. Jika hasil di daerah pemilihan lainnya berjalan sesuai proyeksi, Demokrat hanya perlu memenangkan 13 dari 47 daerah pemilihan tersebut untuk mengamankan mayoritas DPR. Namun, peluang Demokrat di Senat menghadapi tantangan lebih besar. Partai tersebut harus mempertahankan seluruh kursi yang saat ini dikuasainya sekaligus memenangkan setidaknya dua negara bagian yang pada pemilihan presiden 2024 dimenangkan Trump dengan selisih suara dua digit. Negara bagian tersebut antara lain Alaska, Iowa, Kansas, Nebraska, Ohio, South Carolina, dan Texas. Jajak pendapat menunjukkan kandidat Demokrat unggul tipis atau memiliki peluang bersaing ketat di sejumlah negara bagian tersebut.
Baca Juga: Liga Voli Korea: Megawati Hanya Cetak 7 Poin, Pelatih Hyundai Soroti Chemistry Tim Pengamat hukum dan Partai Demokrat juga mengkhawatirkan kemungkinan Trump menggugat hasil pemilu jika Partai Republik mengalami kekalahan. Trump selama ini berulang kali melontarkan klaim yang tidak terbukti bahwa pemilu AS telah dicurangi. Departemen Kehakiman AS menyatakan telah mengerahkan 1.000 pemantau dan pengawas pemilu di seluruh 50 negara bagian. Pemerintah menyebut langkah tersebut sebagai upaya pemantauan pemilu terbesar dalam sejarah pada hari pemungutan suara. Namun, Partai Demokrat mengkritik pengerahan pemantau tersebut karena dinilai berpotensi menimbulkan intimidasi terhadap pemilih. Analisis Reuters menunjukkan, sekitar dua pertiga wilayah yang masuk dalam daftar pemantauan Departemen Kehakiman sebelumnya memberikan suara kepada Kamala Harris, kandidat Demokrat, dalam pemilihan presiden 2024.
Baca Juga: Trump Hentikan Bantuan Militer US$ 4 Miliar per Tahun untuk Israel Akhir 2026 Persaingan di Alaska Jadi Sorotan
Persaingan pemilihan Senat di Alaska juga menjadi sorotan setelah laporan The New York Times mengungkap dugaan keterlibatan tim kampanye kandidat Demokrat Mary Peltola dalam merekrut kandidat independen yang memiliki nama depan dan belakang sama dengan kandidat petahana dari Partai Republik, Dan Sullivan. Peltola, 53 tahun, membantah terlibat dalam upaya tersebut. Sementara itu, Departemen Kehakiman AS di bawah pemerintahan Trump telah membuka penyelidikan pidana atas dugaan tersebut dan mengajukan gugatan untuk mencegah pengesahan hasil pemilu. Namun, hakim menolak gugatan tersebut. Pendukung Sullivan, 61 tahun, menyatakan tidak kebingungan dengan keberadaan dua kandidat bernama Dan Sullivan dalam surat suara. "Mereka membuatnya cukup jelas: ada tulisan 'petahana' setelah namanya," ujar Jake Wesley, 27 tahun, yang tumbuh di Anchorage dan kini bertugas di Angkatan Udara AS di wilayah tersebut.