Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un Janji Tambah Senjata Nuklir



KONTAN.CO.ID - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menegaskan komitmennya untuk memperluas arsenal nuklir negaranya saat menutup Kongres ke-9 Partai Pekerja Korea dengan parade militer besar di ibu kota, Pyongyang.

Menurut kantor berita resmi KCNA dilansir Reuters Kamis (26/2/2026), Kim menyatakan bahwa peningkatan dan penguatan kekuatan nuklir merupakan “kehendak tegas” partainya.

Ia menegaskan Korea Utara akan fokus pada proyek untuk menambah jumlah senjata nuklir serta memperluas sarana operasional nuklir.


Baca Juga: Perundingan Nuklir AS-Iran Kembali Digelar, Bayang-Bayang Serangan Militer Kian Kuat

Target Lima Tahun dan Modernisasi Militer

Kongres yang berlangsung selama sepekan itu menetapkan arah kebijakan lima tahun ke depan. Kim menyebut status internasional Korea Utara meningkat secara luar biasa.

Ia juga memaparkan rencana pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang lebih canggih, termasuk yang dapat diluncurkan dari bawah laut, sistem serangan berbasis kecerdasan buatan (AI), serta drone tanpa awak.

Lembaga pemikir Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) tahun lalu memperkirakan Korea Utara telah memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir dan cukup bahan fisil untuk memproduksi hingga 40 hulu ledak tambahan, sembari terus mempercepat produksi material tersebut.

Foto-foto parade menunjukkan barisan tentara berbaris di Lapangan Kim Il Sung dengan pencahayaan meriah.

Kim tampak berdiri di podium bersama putrinya, Ju Ae, dan pejabat senior lainnya. Kehadiran Ju Ae kembali memicu spekulasi soal kemungkinan ia dipersiapkan sebagai penerus.

Baca Juga: Dolar AS Melemah Kamis (26/2), Optimisme Kinerja Nvidia Redam Kekhawatiran Tarif AS

Sinyal ke Amerika Serikat

Kim membuka peluang dialog dengan Amerika Serikat, namun dengan syarat.

“Jika AS mencabut kebijakan konfrontatifnya dengan menghormati status negara kami saat ini, tidak ada alasan kami tidak bisa hidup berdampingan dengan baik,” ujar Kim seperti dikutip KCNA.

Ia belum menanggapi secara positif pendekatan Presiden AS, Donald Trump, yang pernah bertemu dengannya tiga kali pada masa jabatan pertama Trump.

Sejumlah analis menilai pernyataan Kim mengindikasikan penolakan terhadap pembicaraan yang mensyaratkan denuklirisasi penuh, meski pintu dialog tetap terbuka jika Washington mengubah apa yang disebut Pyongyang sebagai “kebijakan bermusuhan”.

Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada 31 Maret hingga 2 April. Beberapa pengamat berspekulasi kemungkinan pertemuan tidak resmi dapat terjadi di sela kunjungan tersebut, meski belum ada konfirmasi.

Baca Juga: Nvidia Kembali Lampaui Ekspektasi, Proyeksi Pendapatan Tembus US$78 Miliar

Tegangan dengan Korea Selatan

Terhadap Korea Selatan, Kim mengambil nada jauh lebih keras. Ia menyebut Seoul sebagai “musuh paling bermusuhan” dan menolak dialog, dengan menuding sikap rekonsiliatif pemerintah Seoul sebagai “menipu dan kasar”.

Sejak menjabat pada Juni tahun lalu, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, berupaya membuka kembali jalur komunikasi antar-Korea. Namun, Pyongyang konsisten menolak pendekatan tersebut.

Kim bahkan memperingatkan bahwa Korea Utara dapat mengambil “tindakan sewenang-wenang” jika Korea Selatan melakukan perilaku yang dianggap provokatif.

Ia juga menyatakan bahwa “keruntuhan total Korea Selatan tidak dapat dikesampingkan”.

Dengan eskalasi retorika dan percepatan program militer, dinamika keamanan di Semenanjung Korea kembali menjadi sorotan global, terutama di tengah ketidakpastian hubungan Pyongyang dengan Washington dan Seoul.

Selanjutnya: Naik! Cek Daftar Harga Emas Antam Hari Ini Kamis 26 Februari

Menarik Dibaca: Naik! Cek Daftar Harga Emas Antam Hari Ini Kamis 26 Februari