Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei serahkan kekuasaan kepada putranya, benarkah?



KONTAN.CO.ID - TEHERAN. Jurnalis Iran Momahad Ahwaze melaporkan Sabtu (5/12/2020), Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei kemungkinan telah mengalihkan kekuasaan kepada putranya di tengah kekhawatiran atas kesehatannya yang menurun.

Melansir Jerusalem Post, melalui Twitter, Ahwaze menulis dalam bahasa Arab bahwa sumber-sumber di Iran prihatin dengan kesehatan pemimpin berusia 81 tahun itu, dan orang-orang yang dekat dengannya sangat prihatin atas kondisinya yang memburuk.

Dengan demikian, kekuasaannya dilaporkan telah dialihkan kepada putranya yang berusia 51 tahun, Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, yang saat ini mengawasi beberapa departemen keamanan dan intelijen penting di negara itu.


Sumber-sumber Eropa telah menetapkan Mojtaba sebagai calon penerus posisi pemimpin tertinggi selama lebih dari 10 tahun, dan outlet berita Inggris The Guardian bahkan menjulukinya sebagai "penjaga gerbang pemimpin tertinggi Iran" dalam sebuah artikel tahun 2009.

Baca Juga: Presiden Rouhani: Iran menuju ke arah 500 korban tewas setiap hari akibat Covid-19

Ahwaze mencatat bahwa tidak jelas apa yang menyebabkan kemerosotan kondisi kesehatan pemimpin tertinggi Iran itu dalam waktu semalam, meskipun dia menduga itu mungkin kanker prostat.

Kesehatan Khamenei yang memburuk juga dilaporkan membuat pemimpin tertinggi itu membatalkan beberapa pertemuan penting, seperti pertemuan yang dijadwalkan baru-baru ini dengan Presiden Hassan Rouhani, menurut Ahwaze.

Khamenei berkuasa sejak 1989, mengambil alih kekuasaan setelah kematian pendiri Republik Islam, Ruollah Khomenei. Namun, dia pernah mengalami masalah kesehatan di masa lalu, dan pada 2014 menjalani operasi prostat.

Baca Juga: Kapal rudal Korvet Saar-6 tiba di Israel, Tel Aviv siaga atas serangan Iran

Menurut outlet berita Prancis Le Figaro pada 2015, sumber-sumber Barat percaya pemimpin tertinggi itu menderita kanker prostat. Belum ada konfirmasi resmi yang dibuat mengenai potensi transfer kekuasaan, dan media tidak dapat mengkonfirmasinya.

Jika laporannya benar, itu berarti Khamenei mengundurkan diri menyusul meningkatnya ketegangan dengan AS dan Israel, karena Teheran menyalahkan negara Yahudi itu atas pembunuhan kepala ilmuwan nuklirnya, Mohsen Fakhrizadeh, pada 27 November.

Selain itu, tidak jelas apakah suksesi akan permanen, karena bertentangan dengan aturan konstitusi tentang pengangkatan pemimpin tertinggi baru.

Menurut Pasal 111 konstitusi Iran, pengganti pemimpin tertinggi akan dipilih oleh Majelis Ahli, yang saat ini terdiri dari 88 ayatollah. Untuk sementara, negara itu akan dikelola oleh dewan kepemimpinan sementara, yang terdiri dari presiden Iran, ketua pengadilan, dan anggota dewan penjaga.

Selanjutnya: Penasihat militer Iran: Israel dan sekutu mencoba memicu perang besar-besaran!

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie