Pemulihan Bitcoin ke US$100.000 Bisa Butuh 6 Bulan Usai Flash Crash



KONTAN.CO.ID - Pemulihan harga Bitcoin (BTC) ke level US$100.000 setelah anjlok tajam pada akhir pekan lalu diperkirakan tidak akan berlangsung cepat.

Sejumlah grafik teknikal dan data historis menunjukkan bahwa proses pemulihan bisa memakan waktu setidaknya enam bulan.

Bitcoin menutup perdagangan mingguan di level US$76.931 pada Minggu, setelah sebelumnya sempat jatuh di bawah US$75.000.


Baca Juga: Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) Menambah Modal Anak Usaha Rp 35 Miliar

Penutupan ini membuat Bitcoin kehilangan simple moving average (SMA) 100-minggu untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023.

Kondisi tersebut memicu perdebatan di kalangan analis apakah pergerakan ini menandai awal fase pasar bearish baru.

Sebagai informasi mengutip data Coinmarketcap Selasa (3/2/3036) pukul  11.40 WIB, harga Bitcoin terpantau di US$78.679 atau turun 11,28% dalam tujuh hari terakhir.

Bitcoin Tembus Tren Jangka Panjang

SMA 100-minggu Bitcoin saat ini berada di sekitar US$87.500. Hilangnya level teknikal penting ini menandai perubahan tren makro bagi BTC.

Pengamat kripto Brett mencatat bahwa, kecuali saat flash crash COVID-19 pada 2020, Bitcoin biasanya menghabiskan waktu cukup lama di bawah SMA 100-minggu.

Pada siklus 2014–2015, BTC bertahan di bawah level tersebut selama 357 hari, dengan harga bergerak di kisaran US$200–US$600 pasca puncak bull market 2013.

Baca Juga: Dolar AS Rebound: Ada Apa dengan Kebijakan The Fed Terbaru?

Pada periode 2018–2019, fase serupa berlangsung selama 182 hari, bertepatan dengan dasar pasar bearish di kisaran US$3.000–US$6.000.

Sementara itu, pada 2022, Bitcoin berada di bawah SMA 100-minggu selama 532 hari setelah runtuhnya FTX, dengan harga berkonsolidasi di antara US$16.000–US$25.000.

Dalam setiap kasus tersebut, fase di bawah SMA 100-minggu lebih mencerminkan periode akumulasi daripada pemulihan cepat, mengindikasikan bahwa faktor waktu kembali menjadi kunci sebelum fase bullish berikutnya.

Dominasi USDT dan Resistance US$85.000

Analis kripto Sherlock memperingatkan potensi pasar bearish setelah grafik dominasi USDT mencatat penutupan mingguan di atas 7,2%.

Pada siklus sebelumnya, penutupan di atas 6,7% sudah cukup untuk mengonfirmasi kondisi bearish. Breakout terbaru ini menjadi yang pertama dalam lebih dari dua setengah tahun.

Sherlock juga menyoroti level US$85.000 sebagai zona resistance krusial. Lebih dari US$120 miliar volume spot tercatat berpindah tangan di rentang US$85.000–US$95.000 pada kuartal IV 2025. Banyak investor yang membeli di area tersebut kini berada dalam posisi rugi.

Baca Juga: Berbalik Arah, IHSG Rebound 1% dan Kembali ke Level 8.000

Dengan harga Bitcoin saat ini di sekitar US$78.000, setiap reli menuju US$85.000 berpotensi menghadapi tekanan jual yang kuat, seiring investor berupaya keluar di titik impas.

Harga realisasi pemegang BTC berusia satu hingga tiga bulan saat ini berada di sekitar US$91.500.

Pola Fraktal Mirip Koreksi 2022

Struktur grafik mingguan Bitcoin saat ini juga menunjukkan kemiripan dengan pola koreksi tahun 2022.

Kala itu, BTC membentuk lower high, kehilangan SMA 100-minggu, dan gagal mempertahankan pemulihan sebelum melanjutkan penurunan yang lebih dalam.

Baca Juga: Yen Jepang Tertekan Kebijakan The Fed dan Politik Jepang

Pola serupa mulai terlihat kembali pada 2026. Jika fraktal ini berlanjut, Bitcoin berpotensi menguji ulang area US$40.000–US$45.000, yang dikenal sebagai zona permintaan kuat.

Meski fraktal bukan alat prediksi pasti, struktur ini mengindikasikan risiko penurunan masih cukup tinggi selama Bitcoin belum mampu merebut kembali SMA 100-minggu secara meyakinkan.

Selanjutnya: Airlangga: Pemerintah Siapkan Diskon Transportasi Lebaran 2026 Senilai Rp 200 Miliar

Menarik Dibaca: Samsung Galaxy A35 HP Rp 4 Jutaan: Layar AMOLED Juara, Baterai Tahan Lama

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: