Penambang RI Setop Ekspor Batubara Spot, Pembeli Asia Kesulitan Pasokan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah penambang batubara Indonesia menghentikan ekspor batubara spot setelah pemerintah mengusulkan pemangkasan produksi secara signifikan.

Langkah ini membuat pembeli di Asia kesulitan memperoleh pasokan dari eksportir batubara terbesar dunia.

Mengutip Reuters, Selasa (3/2/2026), pemerintah Indonesia bulan lalu menetapkan kuota produksi bagi penambang besar yang turun sekitar 40% hingga 70% dibandingkan level 2025.


Kebijakan tersebut merupakan bagian dari rencana pemangkasan produksi hampir seperempat guna mendorong kenaikan harga batubara.

Baca Juga: KAI Angkut Hampir 4,03 Juta Ton Batubara Sepanjang Januari 2026

Asosiasi industri utama menentang kebijakan ini dan memperingatkan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) serta penutupan tambang apabila pemangkasan produksi diberlakukan secara ketat.

“Produksi masih berjalan, tetapi tidak pada kapasitas penuh. Pengiriman batubara akan dibatasi hingga ada keputusan final terkait kuota pemerintah,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) H. Kristiono kepada Reuters.

Ia menambahkan, saat ini tidak ada kargo batubara spot yang ditawarkan ke pasar.

Kristiono menyebutkan, kontrak jangka panjang masih tetap dipenuhi.

Namun, sejumlah penambang mempertimbangkan pembatalan kontrak dengan alasan kondisi kahar atau keadaan tak terduga.

Kebijakan ini menjadi gangguan pasokan berbasis kebijakan terbaru dari Indonesia, yang bertujuan meningkatkan penerimaan negara di tengah melemahnya permintaan dari pembeli utama seperti China dan India.

Baca Juga: Dekaindo Proyeksikan Ekspor Kakao Tumbuh 10% di Tahun 2026

Sebelumnya, larangan ekspor singkat pada 2022 sempat memicu lonjakan tajam harga batubara global.

Berdasarkan data Kpler, Indonesia menyumbang sekitar separuh dari total ekspor batubara termal dunia yang mencapai 960 juta ton pada 2025.

Pemerintah kini mempertimbangkan pemangkasan produksi sekitar 24% menjadi 600 juta ton, meski volume ekspor tahun lalu saja telah melampaui 510 juta ton.

Pelaku pasar memperkirakan pembatasan ini akan mendorong kenaikan harga dan memperketat pasokan global.

Seorang pedagang India mengatakan, kargo batubara spot asal Indonesia tidak tersedia bahkan ketika ditawarkan dengan premi US$ 1–US$ 2 per ton di atas harga saat ini, dalam ajang Coaltrans India di New Delhi.

Pedagang berbasis di Singapura juga menilai pengiriman spot kecil kemungkinan kembali normal pada kuartal ini kecuali pemerintah Indonesia melonggarkan kebijakan pemangkasan produksi.

Baca Juga: Kementerian ESDM Targetkan Groundbreaking Proyek PLTSa Pertengahan 2026

Dampak Kebijakan ke Harga

Harga batubara Indonesia berkalori rendah 4.200 kcal/kg tercatat naik sekitar 7% sepanjang Januari, menurut trader batubara India I-Energy Natural Resources, setelah muncul laporan rencana pemangkasan produksi pada awal bulan.

Batubara berkalori rendah merupakan mayoritas ekspor Indonesia. DBX Commodities memperkirakan, apabila produksi dipangkas 20%, harga batubara jenis ini berpotensi melonjak 40%–70%, sementara batubara berkalori lebih tinggi bisa naik 10%–20%.

“Guncangan pasokan dari Indonesia mendorong kenaikan premi batubara dari pemasok lain. Permintaan dari Jepang, China, dan Korea meningkat karena mereka mencari pasokan yang stabil,” ujar seorang pedagang batubara di utilitas besar Asia.

Baca Juga: Waspadai PHK di Industri Tambang Batubara Imbas Pemangkasan RKAB Tahun 2026

Meski demikian, pelaku industri menilai preferensi pembeli terhadap batubara berkalori tinggi dari negara lain serta lemahnya permintaan dari China dan India dapat membatasi lonjakan harga yang terlalu tajam.

CEO DBX Commodities Alexandre Claude menambahkan, potensi pembalikan kebijakan akibat tekanan fiskal atau tenaga kerja, perlambatan ekonomi China yang lebih dalam, serta harga gas yang tetap rendah dapat menahan kenaikan harga batubara.

Sementara itu, Direktur I-Energy Natural Resources Vasudev Pamnani memperkirakan pembeli di India akan menghadapi guncangan pasokan dan harga dalam jangka pendek.

“Namun jika pemangkasan berlanjut, India masih memiliki opsi diversifikasi impor dari Rusia, Afrika Selatan, dan Mozambik,” katanya.

Selanjutnya: Grup Nanshan China Akan Bangun Kilang Minyak di Indonesia, Kapasitasnya Segini

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Home Care 1-15 Februari 2026, Attack-Wipol Diskon hingga 35%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News