KONTAN.CO.ID - BERLIN. Rencana Amerika Serikat (AS) menarik sekitar 5.000 tentaranya dari Jerman memicu reaksi beragam. Pemerintah Jerman melihat langkah ini sebagai dorongan agar Eropa lebih mandiri dalam urusan pertahanan, sementara sejumlah politisi senior AS justru khawatir keputusan itu melemahkan keamanan kawasan. Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menilai pengurangan pasukan tersebut sudah bisa diperkirakan.
Ia menegaskan Eropa harus meningkatkan tanggung jawab atas keamanannya sendiri. "Eropa harus mengambil peran lebih besar dalam menjaga pertahanan," ujarnya singkat.
Baca Juga: Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Bursa Eropa Naik, Harga Minyak Turun Pentagon sebelumnya mengumumkan penarikan pasukan dari Jerman yang selama ini menjadi basis militer terbesar AS di Eropa, akan dilakukan dalam 6 hingga 12 bulan ke depan. Namun, belum ada rincian soal pangkalan mana yang terdampak atau apakah pasukan tersebut akan dipulangkan ke AS atau dipindahkan ke wilayah lain. Presiden AS Donald Trump bahkan mengisyaratkan pengurangan yang lebih besar dari rencana awal. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan hubungan transatlantik, dipicu perbedaan sikap terkait konflik Iran serta kebijakan tarif perdagangan. Tak hanya itu, keputusan ini juga membatalkan rencana penempatan batalion rudal jarak jauh Tomahawk di Jerman, sebuah langkah yang sebelumnya diharapkan Berlin bisa menjadi penangkal kuat terhadap Rusia. Di sisi lain, dua petinggi Partai Republik di Kongres AS, Senator Roger Wicker dan anggota DPR Mike Rogers, menyatakan kekhawatiran serius.
Baca Juga: Dolar AS Melemah, Investor Khawatir Konflik Timur Tengah Bisa Berlanjut Lama Mereka menilai pasukan AS seharusnya tetap berada di Eropa, bahkan diperkuat di kawasan timur. "Pengurangan kehadiran militer terlalu cepat berisiko melemahkan daya tangkal dan mengirim sinyal yang salah ke Rusia," tegas mereka. NATO pun masih berupaya memahami detail rencana tersebut. Seorang juru bicara aliansi menyebut pihaknya tengah berkoordinasi dengan Washington. Kekhawatiran juga datang dari Polandia, yang selama ini mengandalkan dukungan AS di sayap timur NATO di tengah konflik Rusia-Ukraina. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk memperingatkan adanya ancaman terhadap soliditas aliansi Barat. Ia menilai masalah terbesar justru datang dari dalam. "Ancaman terbesar bagi komunitas transatlantik adalah melemahnya persatuan kita sendiri," tulisnya. Situasi ini semakin kompleks setelah Trump juga mengancam menaikkan tarif impor mobil dari Uni Eropa hingga 25%, yang berpotensi menekan ekonomi Jerman.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun Tipis, Pasar Tenaga Kerja Masih Tahan Banting Sejumlah analis melihat langkah Washington ini lebih sebagai respons politik ketimbang strategi jangka panjang. Politisi Jerman dari partai CDU, Peter Beyer, menilai kebijakan tersebut mencerminkan tekanan yang dihadapi Trump di dalam negeri maupun luar negeri. Sementara itu, pengurangan pasukan ini juga berdampak pada struktur militer AS di Eropa. Satu brigade penuh akan ditarik, dan rencana pembentukan batalion rudal jarak jauh dibatalkan. Padahal, kemampuan serangan jarak jauh selama ini menjadi keunggulan utama AS di NATO. Jerman sendiri berencana meningkatkan kekuatan militernya, termasuk menambah jumlah personel aktif dari sekitar 185.000 menjadi 260.000. Namun, sejumlah pihak menilai target itu masih belum cukup untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang, khususnya dari Rusia.
Kehadiran militer AS di Jerman telah berlangsung sejak Perang Dunia II dan mencapai puncaknya pada era Perang Dingin.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Naik Tipis, The Fed Makin Pede Tahan Suku Bunga Hingga kini, fasilitas penting seperti pangkalan udara Ramstein dan rumah sakit militer Landstuhl masih menjadi bagian vital operasi militer AS di berbagai kawasan. Dengan dinamika terbaru ini, masa depan kerja sama pertahanan antara AS dan Eropa kembali menjadi sorotan, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.