Penawaran lelang SUN diyakini masih laris



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (8/10) diprediksi mampu mencapai target indikatif. Meskipun, minat investor jelang akhir tahun cenderung mulai meredup.

Sebagai informasi, pekan depan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang Rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2019.

Baca Juga: Kendati pasar tertekan, hasil lelang sukuk negara masih bisa kelebihan permintaan


Terdapat tujuh seri yang akan dirilis yakni SPN12200106 (Reopening), SPN12201009 (New Issuance), FR0081 (Reopening), FR0082 (Reopening), FR0080 (Reopening), FR0079 (Reopening), dan FR0076 (Reopening).

Rencananya, ketujuh SUN tersebut bakal dilelang 8 Oktober 2019 dan dibuka pukul 10.00 WIB, kemudian ditutup 12.00 WIB. Tanggal Setelmen akan dilakukan Kamis 10 Oktober 2019, dengan target indikatif Rp 15 triliun dan target maksimal sebesar Rp 30 triliun.

Senior VP & Head of Investment Recapital Asset Management Rio Ariansyah memprediksi seri yang akan laris manis umumnya adalah seri yang memiliki tenor 10 tahun dan 20 tahun.

Baca Juga: Simak lima seri sukuk yang akan dilelang Selasa pekan depan

Dari ketujuh seri tersebut FR0082 memiliki tenor 11 tahun dengan jadwal jatuh tempo 15 September 2030, diikuti FR0080 dengan tenor 16 tahun dan jatuh tempo 15 Juni 2035, FR0079 tenor 20 tahun dan jatuh tempo 15 April 2039, serta FR0076 memiliki tenor 29 tahun dengan jatuh tempo di 15 Mei 2048.

"Sentimen yang mempengaruhi penawaran adalah tren suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang turun," jelas Rio kepada Kontan.co.id, Minggu (6/10).

Rio juga optimistis target indikatif yang ditetapkan pemerintah selayaknya masih bisa dicapai pada rilis SUN pekan depan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, penawaran SUN bisa tembus jauh dari target indikatif pemerintah yang hanya Rp 15 triliun.

Baca Juga: Aksi demonstrasi marak, hasil lelang SUN menciut

"Harusnya bisa begitu (tembus Rp 20 triliun hingga Rp 25 triliun). Bahkan mungkin saja menyentuh target maksimal (Rp 30 triliun)," ungkapnya.

Itu karena, jumlah investor yang masuk dari pasar saham ke pasar obligasi negara cukup signifikan. Apalagi, seiring dengan tingkat rupiah yang stabil tidak bergolak, maka ada switching market dari pasar saham ke pasar equity. Rio mengungkapkan, dalam pantauannya terakhir, foreign ownership di SUN mencapai Rp 1,023 triliun.

Direktur Utama Avrist Asset Management Hanif Mantiq mengatakan, jelang akhir tahun lelang surat utang dirasa tidak akan terlalu ramai. Ini karena, target pemerintah cenderung diambil saat di awal tahun atau strategi front loading.

Baca Juga: Cermati prediksi imbal hasil lelang SUN, Selasa (24/9) ini

"Jadi yield yang terjadi tidak akan naik, karena pemerintah punya opsi untuk tidak menyerap jika yieldnya tinggi," ungkap Hanif kepada Kontan.co.id, Sabtu (5/10).

Selain itu, menjelang akhir tahun pemerintah dinilai cenderung akan mengakomodasi seri surat utang yang memiliki tenor jangka panjang, semisal untuk 10 tahun dan 15 tahun.

Adapun Hanif memprediksi sentimen yang mempengaruhi penawaran surat utang negara di sisa akhir tahun hanya mengacu arah kebijakan moneter Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Catat, berikut tujuh seri SUN yang akan dilelang pemerintah hari ini

Dengan begitu, dia memperkirakan kisaran yield untuk penawaran lelang SUN pekan depan tidak akan jauh dari yield pekan lalu yakni di 6,8%. Adapun seri yang dianggap paling menarik yakni SUN dengan tenor 5 tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto