Pencabutan Izin Pengelolaan Hutan Guncang Saham UNTR, ASII, dan INRU, Ini Kata Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pencabutan izin pemanfaatan hutan oleh pemerintah menjadi sentimen negatif bagi saham emiten berbasis sumber daya alam. Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Astra International Tbk (ASII) tercatat melemah pada perdagangan Rabu (21/1/2026), seiring kekhawatiran pasar terhadap dampak kebijakan tersebut.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai, dampak pencabutan izin pemanfaatan hutan terhadap kinerja keuangan UNTR dan ASII cenderung terbatas. Hal ini mengingat eksposur langsung terhadap izin yang dicabut bukan merupakan kontributor dominan terhadap kinerja konsolidasi kedua emiten tersebut.

“Berdasarkan struktur pendapatan dan kontribusi segmen, UNTR dan ASII tidak memiliki ketergantungan langsung yang signifikan terhadap izin pemanfaatan hutan yang dicabut,” ujar Imam kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).


Baca Juga: IHSG Perkasa Meski Rupiah Melemah, Analis Ungkap Target Indeks pada Kuartal I-2026

Ia menambahkan, pelemahan harga saham UNTR dan ASII saat ini lebih mencerminkan reaksi pasar jangka pendek terhadap meningkatnya risiko regulasi di sektor sumber daya alam, dibandingkan perubahan fundamental bisnis. Hingga saat ini, belum terlihat indikasi penurunan pada segmen utama maupun arus kas inti kedua emiten.

Berbeda dengan UNTR dan ASII, dampak pencabutan izin dinilai lebih material bagi PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU). Menurut Imam, izin Persetujuan Pemanfaatan Hutan (PBPH) memiliki peran penting dalam menopang keberlangsungan operasional INRU, terutama terkait ketersediaan bahan baku.

“Untuk INRU, pencabutan PBPH berpotensi memberikan tekanan yang lebih berarti terhadap kinerja keuangan, khususnya jika ketidakpastian izin berlangsung dalam waktu lama,” jelasnya.

Ia menyebutkan, prospek bisnis INRU ke depan akan sangat ditentukan oleh kejelasan kebijakan lanjutan dari pemerintah serta langkah mitigasi yang diambil manajemen. Tanpa kepastian izin, terdapat risiko terhadap volume produksi dan struktur biaya perseroan.

Lebih lanjut, Imam menilai kondisi ini menegaskan pentingnya risiko regulasi dan kepatuhan lingkungan bagi emiten berbasis sumber daya alam. Emiten dengan ketergantungan tinggi terhadap konsesi dinilai lebih rentan terhadap volatilitas kebijakan, sementara perusahaan dengan portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi cenderung memiliki daya tahan yang lebih baik.

Dari sisi strategi investasi, Imam menilai koreksi saham UNTR dan ASII dapat menjadi peluang akumulasi selektif bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang, dengan catatan tetap mencermati perkembangan kebijakan selanjutnya. Sementara itu, untuk INRU, pendekatan wait and see dinilai lebih relevan hingga terdapat kejelasan regulasi yang lebih konkret.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound, Simak Support-Resist dan Saham Pilihan Kamis (22/1)

Selanjutnya: Gagal Capai Target 2025, Polytron Targetkan Pertumbuhan di Atas 8% Tahun Ini

Menarik Dibaca: Pantau 5 Kripto Top Gainers 24 Jam Terakhir, LayerZero Memimpin

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News