KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (20/1/2026), seiring kekhawatiran investor terhadap independensi Bank Indonesia (BI) setelah Presiden Prabowo Subianto mengajukan keponakannya sebagai calon anggota Dewan Gubernur BI. Melansir
Reuters, rupiah melemah hingga level Rp 16.985 per dolar AS, menjelang keputusan kebijakan moneter BI pekan ini. Konsensus analis memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya. Sepanjang Januari ini, rupiah telah terdepresiasi hampir 2%, setelah turun 3,5% sepanjang tahun 2025.
Baca Juga: Pemerintah Terbitkan Global Bond US$ 2,7 Miliar pada Awal Tahun 2026 Juru bicara Presiden Prasetyo Hadi pada Senin (19/1/2026) mengatakan bahwa Thomas Djiwandono keponakan Presiden Prabowo yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan menjadi salah satu dari tiga nama yang diajukan pemerintah kepada DPR untuk mengisi posisi di Dewan Gubernur BI. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa independensi kebijakan moneter di ekonomi terbesar Asia Tenggara itu berpotensi tertekan, terutama di tengah ambisi Presiden Prabowo mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada 2029, dari sekitar 5% saat ini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran tersebut. Ia menegaskan bahwa pencalonan Thomas tidak berarti menghilangkan independensi bank sentral. “Bisa saja muncul spekulasi bahwa karena Thomas masuk ke sana, independensi BI hilang. Saya tidak sepakat dengan pandangan itu,” ujar Purbaya.
Baca Juga: Aktivitas Dunia Usaha Melambat di Akhir 2025, BI Pastikan Masih di Zona Positif Ia menambahkan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, setelah pasar memahami hal tersebut, nilai tukar rupiah berpotensi menguat kembali. Tekanan terhadap rupiah juga datang dari arus keluar modal asing. Sepanjang 2025, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar US$ 6,4 miliar di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal turut membebani sentimen pasar. Defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB), menjadi yang terlebar dalam setidaknya dua dekade terakhir di luar periode pandemi, sekaligus mendekati batas maksimum defisit sebesar 3% dari PDB. Daniel Tan, manajer portofolio Grasshopper Asset Management menilai, pelemahan rupiah ke rekor terendah mencerminkan akumulasi kekhawatiran pasar terhadap isu fiskal dan independensi bank sentral.
Baca Juga: Bursa Deputi Gubernur BI Memanas, Nama Wamenkeu Picu Polemik Independensi “Pencalonan keponakan Presiden menambah kekhawatiran yang sudah ada, termasuk potensi pelonggaran batas defisit anggaran. Penunjukan ini memicu keraguan baru terhadap independensi BI,” ujar Daniel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News