KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat,
outstanding pendanaan industri
fintech peer to peer (P2P)
lending atau pinjaman daring (pindar) yang berasal dari
lender luar negeri mencapai Rp 14,06 triliun per Maret 2026. Nilainya meningkat 18,28%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu. Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan peningkatan pendanaan dari lender luar negeri tak terlepas dari sejumlah faktor. Dia bilang salah satunya imbal hasil yang ditawarkan
fintech lending. "Dengan nilai pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan instrumen investasi lainnya,
lender dari luar negeri tertarik menanamkan uangnya ke platform pindar Indonesia," katanya kepada Kontan, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga: Easycash Beberkan Pertimbangan Lender Asing Berinvestasi di Fintech Lending Selain itu, Nailul beranggapan
lender luar negeri juga melihat prospek dari pasar Indonesia yang menurutnya masih cukup positif. Selama masih ada
credit gap, dia bilang permintaan layanan pembiayaan pindar masih cukup tinggi. "Mereka tampaknya juga tidak mempermasalahkan kondisi dari sisi mikronya industri pindar. Namun, bagi
lender dalam negeri, pasti terpengaruh terkait kondisi mikronya," tuturnya. Nailul juga beranggapan peningkatan tersebut disebabkan banyak
lender yang berasal dari China menempatkan dana di
fintech lending Indonesia. Sebab, mereka menilai prospek
fintech lending di China sudah tak positif. "Mereka akan mencari negara berkembang dengan prospek bisnis pindar yang lebih baik, salah satunya Indonesia. Di sisi lain, perbankan juga enggan menyalurkan kreditnya ke masyarakat
unbankable, sehingga menjadi peluang
lender asing ke Indonesia," ucap Nailul. Ditambah, Nailul berpandangan dengan kondisi investasi Indonesia yang dinamis saat ini,
lender dari luar negeri akan menjadi pilihan sumber pembiayaan yang realistis oleh platform pindar. Dari sisi penyelenggara, PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) menyampaikan ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan utama
lender luar negeri dalam menaruh pendanaan. VP Public Relations Amartha Harumi Supit mengatakan salah satunya adalah melihat
fintech lending yang menerapkan tata kelola
prudent. "Dengan demikian, Amartha juga menerapkan prinsip tata kelola dan mitigasi risiko yang ketat guna menjaga kualitas portofolio," katanya kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga: AAJI Catat Total Polis di Industri Asuransi Jiwa Meningkat 3,6% pada Kuartal I-2026 Harumi menerangkan
lender luar negeri, terutama berasal dari Eropa, juga sangat fokus pada nilai-nilai keberlanjutan, seperti pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan. Dia bilang nilai itu juga yang menjadikan partner luar negeri memilih bermitra dengan Amartha. Harumi menyampaikan Amartha yang sudah berdiri selama 16 tahun berfokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan yang berkelanjutan di lebih dari 50.000 desa. Alhasil, itu menjadi daya tarik juga bagi lender luar negeri.
Lebih lanjut, Harumi mengatakan sejauh ini Amartha didukung lebih dari 30 lender institusi dari skala nasional maupun global. Dia menerangkan sudah ada beberapa lender institusi dari luar negeri yang bermitra dengan Amartha untuk menaruh pendanaan. Misalnya saja, International Finance Corporation (IFC), organisasi nirlaba global Accion, Women's World Banking, Norfund, Swedfund, hingga Beenext asal Singapura. "Mereka menjadi partner institusi yang mendukung Amartha untuk menyalurkan pembiayaan ke Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) daerah," ucapnya. Sementara itu, Harumi mengungkapkan Amartha telah melayani lebih dari 4 juta UMKM dan menyalurkan pembiayaan produktif lebih dari Rp 47 triliun sampai saat ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News