Pendapatan Bakrie & Brothers (BNBR) Turun 3,2% Sepanjang 2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan kinerja yang bervariasi sepanjang 2025. Meskipun laba bersih melonjak, pendapatan perusahaan tercatat turun tipis.

Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan bersih BNBR turun 3,2% secara tahunan (year on year) menjadi sebesar Rp 3,74 triliun di tahun 2025 dari Rp 3,86 triliun pada 2025.

Kendati begitu, terjadi kenaikan laba bersih sebesar 50,7% senilai Rp 493,85 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 327,5 miliar. 


Direktur Utama BNBR, Anindya N. Bakrie mengatakan, pihaknya masih mampu meraih kinerja ini di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, volatilitas pasar energi, gangguan rantai pasokan, dan perlambatan pertumbuhan global serta fragmentasi perdagangan yang meningkat.

Baca Juga: Wuling Andalkan Kendaraan EV dan Hybrid untuk Dongkrak Penjualan di Jakarta Fair 2026

Rinciannya, pendapatan bersih tersebut berasal dari PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group sebesar Rp 2,2 triliun, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR)  sebesar Rp 1,08 triliun, dan PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group sebesar Rp 464,21 miliar. 

Anindya menambahkan, di tengah kondisi perekonomian terkini, BNBR optimis mampu terus menjaga pertumbuhan dan stabilitas di tengah perubahan global. 

Dia menilai kemampuan beradaptasi dan daya tahan perusahaan terhadap berbagai perubahan dan gejolak ekonomi menjadi modal BNBR untuk memastikan keberlanjutan usaha.

“Ke depan, kami fokus menggarap lini infrastruktur, baik fisik maupun digital. Sembari terus mengembangkan industri berkelanjutan di bidang kendaraan listrik dan energi hijau,” kata Anindya dikutip dari keterangan resmi, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan BNBR, di Jakarta, Jumat (12/6/2026). 

Wakil Direktur Utama BNBR, A. Ardiansyah Bakrie mengatakan, di lini infrastruktur, perusahaan melalui PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) mengelola ruas Tol Cimanggis-Cibitung sepanjang 26,184 km dengan masa konsesi selama 45 tahun hingga 2061.

Volume lalu lintas (traffic) tol ini disebut mencapai rata-rata 40.888 kendaraan per hari atau lebih tinggi hingga 3,38% dibandingkan target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

“Pendapatan rata-rata CCT saat ini sebesar Rp 2,3 miliar per hari, lebih tinggi hingga 4,87% dibandingkan target RKAP dan diproyeksikan akan terus meningkat seiring meningkatnya proyeksi traffic dan rencana kenaikan tarif pada tahun 2026,” terang Ardiansyah.

Di bidang infrastruktur komunikasi digital, BNBR melalui PT Multi Kontrol Nusantara (MKN) di sepanjang 2025 telah meraup pendapatan sebesar Rp 358,9 miliar, atau naik 14,9% yoy.

Pendapatan tersebut berasal dari kontribusi MKN terhadap program pemerintah untuk pemerataan konektivitas internet di area pedesaan, pinggiran kota dan 3T.

Selain itu, MKN juga membangun jaringan kabel fiber optik sepanjang lebih dari 8.000 km dan jaringan Fiber To The Home (FTTH) dengan total homepass sebanyak 320.000 di seluruh Indonesia.

Ardiansyah bilang, MKN juga turut berkontribusi dalam implementasi layanan Internet of Things (IoT) di Pulau Jawa dan Kalimantan, serta mengembangkan aplikasi berbasis teknologi artificial intelligence (AI) dan machine learning untuk mempercepat tersedianya ekonomi digital yang lebih efisien dan produktif.

Di lini bisnis EV, sepanjang 2025, VKTR menjual 69 unit kendaraan listrik yang terdiri dari 53 bus, 10 truk, dan 6 forklift ke berbagai perusahaan lintas industri. Sehingga, total kumulatif penjualan kendaraan listrik VKTR yang telah dirampungkan sejak awal hingga akhir tahun 2025 mencapai 135 unit bus listrik, 24 unit truk listrik, dan 13 unit forklift.  

Adapun di kuartal I-2026, VKTR telah menyelesaikan pengiriman sejumlah 30 unit bus listrik 12 meter kepada operator TransJakarta. 

Dengan tambahan tersebut, secara kumulatif VKTR telah memasok sebanyak 152 unit bus listrik untuk armada TransJakarta, atau sekitar 30% dari total armada bus listrik TransJakarta yang saat ini mencapai 500 unit.  

“Hingga kini, VKTR juga masih menjadi satu-satunya pemasok armada bus listrik TransJakarta yang dirakit di dalam negeri dan telah memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40%,” imbuh Ardiansyah. 

Di industri energi baru terbarukan (EBT), BNBR melalui anak usaha PT Bakrie Power, yakni PT Helio Synar Energi (Helio) yelah mengembangkan fasilitas Pembangkit Tenaga Surya (PLTS) Atap, baik yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia maupun di fasilitas operasional pabrik di lingkungan Grup Bakrie. 

“Helio juga berhasil mengembangkan bisnis EV charging yang tersebar di sejumlah daerah, mulai dari pool bus listrik, area parkir gedung bertingkat dan bandara di Jakarta, hingga lingkungan kampus di Yogyakarta serta area pabrik kertas di Sumatera,” kata Ardiansyah.

BNBR juga merintis usaha baru melalui PT Modula Tiga Dimensi (Modula) di bidang aplikasi teknologi konstruksi pencetakan 3-dimensi (3DCP) dengan berinvestasi bersama COBOD International dari Denmark.

Modula, lanjutnya, telah menyelesaikan konstruksi Gedung Auditorium milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk di komplek pabrik mereka di Citeureup, Bogor, dan saat ini sedang menyelesaikan sebuah komplek Mes Eco Village di sebuah pabrik pipa baja di Lampung.

"Langkah ini menjadi solusi alternatif dalam teknologi konstruksi bangunan dan menjadi pembuka bisnis baru di bidang ini menggunakan teknologi 3DCP yang cepat, advanced dan ramah lingkungan,” terang Ardiansyah.

Baca Juga: Salim Ivomas (SIMP) Buka Suara soal Pemeriksaan Transaksi Ekspor, Ini Penjelasannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News