KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli membukukan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp 14,83 triliun pada semester I-2026. Capaian tersebut tumbuh 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,6 triliun. Segmen institusi menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp 6,71 triliun, meningkat 98% secara tahunan. Disusul segmen toko fisik yang mencatatkan pendapatan Rp4,45 triliun atau tumbuh 41%. Sementara itu, pendapatan segmen ritel 1P naik 23% menjadi Rp 2,87 triliun dan ritel 3P meningkat 11% menjadi Rp 806 miliar. CEO sekaligus Co-Founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan ekosistem omnichannel perseroan di tengah pola belanja konsumen yang semakin selektif dan persaingan pasar yang ketat. Baca Juga: Aturan Jasa Tambang Diperketat, Aspebindo Dorong Pelaku Usaha Lokal “Di tengah pola belanja konsumen yang semakin selektif dan persaingan pasar yang ketat, kami berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sehat sekaligus terus meningkatkan profitabilitas,” ujar Kusumo dalam keterangan resmi Rilis Kinerja Semester I-2026, Selasa (29/9/2026). Kinerja operasional Blibli menunjukkan perbaikan pada semester I-2026. Rugi usaha perseroan menyusut 57% menjadi Rp 493 miliar, dari Rp 1,14 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan ini didukung kenaikan laba kotor sebesar 31% menjadi Rp 2,33 triliun serta penurunan beban operasional sebesar 2% menjadi Rp 2,85 triliun. Efisiensi operasional juga tercermin dari rasio beban operasional terhadap total processing value (TPV) yang turun menjadi 6,3% dari 7,2% pada semester I-2025. EBITDA perseroan tercatat negatif Rp 349 miliar, membaik dibandingkan negatif Rp 997 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Total processing value (TPV) Blibli tercatat sebesar Rp45,19 triliun pada semester I-2026, meningkat 12% secara tahunan. Pertumbuhan terutama ditopang TPV segmen institusi yang naik 62% menjadi Rp 9,7 triliun dan segmen toko fisik yang tumbuh 34% menjadi Rp 5,17 triliun. Sementara itu, TPV ritel 1P meningkat 31% menjadi Rp 4,05 triliun, sedangkan ritel 3P terkoreksi 4% menjadi Rp 26,27 triliun. Untuk memperkuat ekosistem omnichannel, Blibli menambah 36 toko sepanjang kuartal II-2026. Hingga akhir Juni, perseroan mengoperasikan 326 toko elektronik konsumen, 14 toko elektronik rumah tangga, serta satu toko fesyen dan olahraga. Blibli juga mengelola 60 supermarket premium dan 38 pusat pengalaman produk rumah dan gaya hidup. Baca Juga: ESDM Buka Suara Soal Anak Usaha dan Afiliasi Jadi Jasa Pertambangan Pemegang Izin Perseroan juga memperkenalkan layanan pengiriman Prioritas, yang menjamin pesanan pelanggan tiba mulai dari 30 menit setelah pembayaran diselesaikan. Layanan tersebut menjadi bagian dari pengembangan kapabilitas omnichannel dan pengalaman pelanggan Blibli. Blibli mencatat arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi (net cash used in investing activities) sebesar Rp193 miliar pada semester I-2026. Penggunaan kas tersebut terutama terkait akuisisi aset tetap untuk mendukung ekspansi toko fisik. Pada periode yang sama, arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp180 miliar, sementara aktivitas pendanaan menghasilkan arus kas bersih Rp461 miliar. Dengan arus kas tersebut, posisi kas dan setara kas Blibli per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 1,63 triliun, meningkat dari Rp 1,54 triliun pada akhir Desember 2025. Adapun aset tetap neto perseroan mencapai Rp 1,77 triliun per akhir Juni 2026. Blibli menargetkan pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian sebesar 15% hingga 20%. Manajemen memperkirakan persaingan pasar masih ketat hingga akhir tahun, sementara belanja konsumen diproyeksikan pulih secara bertahap. Hingga Selasa (29/9/2026), Blibli belum merilis laporan kinerja kuartal III-2026. Dengan demikian, laporan semester I-2026 masih menjadi laporan kinerja terbaru yang dipublikasikan perseroan.
Pendapatan Blibli Naik 55%, Rugi Usaha Susut 57% Jadi Rp 493 Miliar Semester I-2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli membukukan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp 14,83 triliun pada semester I-2026. Capaian tersebut tumbuh 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,6 triliun. Segmen institusi menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp 6,71 triliun, meningkat 98% secara tahunan. Disusul segmen toko fisik yang mencatatkan pendapatan Rp4,45 triliun atau tumbuh 41%. Sementara itu, pendapatan segmen ritel 1P naik 23% menjadi Rp 2,87 triliun dan ritel 3P meningkat 11% menjadi Rp 806 miliar. CEO sekaligus Co-Founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan ekosistem omnichannel perseroan di tengah pola belanja konsumen yang semakin selektif dan persaingan pasar yang ketat. Baca Juga: Aturan Jasa Tambang Diperketat, Aspebindo Dorong Pelaku Usaha Lokal “Di tengah pola belanja konsumen yang semakin selektif dan persaingan pasar yang ketat, kami berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sehat sekaligus terus meningkatkan profitabilitas,” ujar Kusumo dalam keterangan resmi Rilis Kinerja Semester I-2026, Selasa (29/9/2026). Kinerja operasional Blibli menunjukkan perbaikan pada semester I-2026. Rugi usaha perseroan menyusut 57% menjadi Rp 493 miliar, dari Rp 1,14 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan ini didukung kenaikan laba kotor sebesar 31% menjadi Rp 2,33 triliun serta penurunan beban operasional sebesar 2% menjadi Rp 2,85 triliun. Efisiensi operasional juga tercermin dari rasio beban operasional terhadap total processing value (TPV) yang turun menjadi 6,3% dari 7,2% pada semester I-2025. EBITDA perseroan tercatat negatif Rp 349 miliar, membaik dibandingkan negatif Rp 997 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Total processing value (TPV) Blibli tercatat sebesar Rp45,19 triliun pada semester I-2026, meningkat 12% secara tahunan. Pertumbuhan terutama ditopang TPV segmen institusi yang naik 62% menjadi Rp 9,7 triliun dan segmen toko fisik yang tumbuh 34% menjadi Rp 5,17 triliun. Sementara itu, TPV ritel 1P meningkat 31% menjadi Rp 4,05 triliun, sedangkan ritel 3P terkoreksi 4% menjadi Rp 26,27 triliun. Untuk memperkuat ekosistem omnichannel, Blibli menambah 36 toko sepanjang kuartal II-2026. Hingga akhir Juni, perseroan mengoperasikan 326 toko elektronik konsumen, 14 toko elektronik rumah tangga, serta satu toko fesyen dan olahraga. Blibli juga mengelola 60 supermarket premium dan 38 pusat pengalaman produk rumah dan gaya hidup. Baca Juga: ESDM Buka Suara Soal Anak Usaha dan Afiliasi Jadi Jasa Pertambangan Pemegang Izin Perseroan juga memperkenalkan layanan pengiriman Prioritas, yang menjamin pesanan pelanggan tiba mulai dari 30 menit setelah pembayaran diselesaikan. Layanan tersebut menjadi bagian dari pengembangan kapabilitas omnichannel dan pengalaman pelanggan Blibli. Blibli mencatat arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi (net cash used in investing activities) sebesar Rp193 miliar pada semester I-2026. Penggunaan kas tersebut terutama terkait akuisisi aset tetap untuk mendukung ekspansi toko fisik. Pada periode yang sama, arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp180 miliar, sementara aktivitas pendanaan menghasilkan arus kas bersih Rp461 miliar. Dengan arus kas tersebut, posisi kas dan setara kas Blibli per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 1,63 triliun, meningkat dari Rp 1,54 triliun pada akhir Desember 2025. Adapun aset tetap neto perseroan mencapai Rp 1,77 triliun per akhir Juni 2026. Blibli menargetkan pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian sebesar 15% hingga 20%. Manajemen memperkirakan persaingan pasar masih ketat hingga akhir tahun, sementara belanja konsumen diproyeksikan pulih secara bertahap. Hingga Selasa (29/9/2026), Blibli belum merilis laporan kinerja kuartal III-2026. Dengan demikian, laporan semester I-2026 masih menjadi laporan kinerja terbaru yang dipublikasikan perseroan.